BGN Pastikan Tak Ada Pengadaan CCTV Baru untuk Awasi Dapur MBG

DETIKMERDEKA – Badan Gizi Nasional (BGN) memilih memaksimalkan kamera pengawas atau CCTV yang sudah terpasang di dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk memperketat pengawasan operasional dapur

BGN akan menghubungkan CCTV di setiap dapur dengan pusat pemantauan. Teknologi kecerdasan buatan atau AI juga disiapkan untuk membantu mendeteksi aktivitas yang tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, uji coba sistem integrasi CCTV saat ini berlangsung di sekitar 70 dapur MBG. Sistem tersebut akan digunakan untuk memantau berbagai aktivitas, mulai dari pengolahan bahan makanan hingga pencucian ompreng.

“Kami berusaha untuk sebisa mungkin itu kita tidak membeli atau melakukan pengadaan pengadaan untuk misalnya beli beli CCTV sekian puluh ribu, nggak ada. Jadi kami berusaha bagaimana mengkoneksi saja,” kata Sudaryono.

Menurut Sudaryono, CCTV sebenarnya sudah tersedia di seluruh dapur MBG. Namun, selama ini rekaman kamera hanya digunakan untuk kebutuhan internal masing-masing dapur.

Melalui integrasi tersebut, BGN ingin mengubah fungsi CCTV dari sekadar alat pemantau lokal menjadi sarana pengawasan terpusat. Dengan bantuan AI, aktivitas di dapur diharapkan bisa dipantau lebih luas tanpa harus menambah perangkat dalam jumlah besar.

Sudaryono mengatakan, pengawasan tidak hanya bertujuan memantau aktivitas pekerja, tetapi juga memastikan setiap tahapan pengolahan makanan mengikuti SOP.

Dia mencontohkan kebiasaan sebagian pekerja yang memotong sayuran di lantai, bukan di meja kerja. Praktik tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperbaiki dalam operasional dapur MBG.

“Ini sederhana tapi ini terjadi, karena tenaga kerjanya adalah berasal dari akamsi (anak kampung sini), ibu-ibu ini, beberapa di antaranya memang tidak terbiasa misalnya nyacah kol di meja, dia biasa misalnya nyacah di lantai. Nah, itu dengan adanya CCTV kemudian ada pop-up, kemudian kita bisa,” ujarnya.

Contoh itu memperlihatkan bahwa persoalan pengawasan dapur MBG tidak berhenti pada ketersediaan fasilitas. Cara kerja petugas dan kepatuhan terhadap prosedur juga menjadi bagian penting untuk menjaga kebersihan serta keamanan makanan.

Karena itu, sistem pemantauan akan diarahkan untuk mengawasi relawan, kepala dapur, hingga mitra yayasan yang terlibat dalam program MBG. BGN juga berupaya membenahi tata kelola kemitraan, termasuk menindak yayasan yang dinilai tidak menjalankan perannya dengan semestinya.

Sudaryono menegaskan, BGN tidak ingin melakukan pengadaan CCTV dalam skala besar seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Pemerintah memilih menghubungkan perangkat yang sudah tersedia daripada membeli puluhan ribu kamera baru.

“Jadi insyaallah sih tidak akan ada pengadaan yang bombastis kayak yang lalu-lalu sampai ratusan miliar dan lain sebagainya nggak akan ada,” tegasnya.

Meski demikian, BGN belum mengungkapkan besaran anggaran untuk mengintegrasikan CCTV di seluruh dapur MBG. Rincian biaya pengembangan sistem pemantauan terpusat dan penggunaan teknologi AI juga belum disampaikan.

Penggunaan CCTV lama memang dapat menghindari kebutuhan pengadaan perangkat baru dalam jumlah besar. Namun, efektivitas sistem ini tetap bergantung pada kualitas kamera, kestabilan jaringan, kemampuan teknologi mendeteksi pelanggaran, dan tindak lanjut petugas di lapangan.[]