Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Pulau Miangas di Kabupaten Kepulauan Talaud bukan sekadar agenda kerja biasa. Ada pesan yang terasa kuat dari kunjungan itu. Negara hadir lebih dekat dengan rakyatnya, terutama mereka yang tinggal di wilayah paling ujung Indonesia.
Selama ini, masyarakat di daerah perbatasan sering merasa jauh dari pusat perhatian. Mereka hidup di beranda terdepan negara, tetapi tidak selalu merasakan perhatian yang sama seperti masyarakat di kota besar. Karena itu, ketika Presiden datang langsung ke Miangas, menyapa warga, bernyanyi bersama anak-anak sekolah, hingga bercanda dengan masyarakat, suasana yang muncul bukan hanya meriah, tetapi juga hangat dan emosional.
Hal-hal sederhana seperti itu sering kali terlihat kecil dalam politik. Padahal, kedekatan seorang pemimpin dengan rakyat punya makna besar. Rakyat tidak selalu ingin pidato panjang. Mereka ingin didengar. Mereka ingin merasa diperhatikan.
Mereka ingin melihat bahwa pemimpinnya benar-benar datang untuk melihat keadaan mereka secara langsung, bukan hanya menerima laporan di meja kerja.
Momen ketika Presiden ikut berjoget dan bernyanyi bersama warga diiringi lagu “Tabola Bale” memperlihatkan sisi kepemimpinan yang cair dan membumi. Dalam politik modern, pendekatan seperti ini penting. Pemimpin tidak cukup hanya bekerja di balik layar. Ia juga harus mampu membangun ikatan emosional dengan masyarakat.
Kedekatan seperti ini menjadi modal sosial yang kuat. Ketika rakyat merasa dekat dengan pemimpinnya, rasa percaya kepada negara ikut tumbuh. Masyarakat perbatasan merasa mereka tidak dilupakan. Mereka merasa menjadi bagian penting dari Indonesia.
Namun, kedekatan saja tentu tidak cukup. Kehadiran Presiden harus diikuti langkah nyata yang benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat. Karena itu, pernyataan Presiden tentang renovasi puskesmas dan sekolah di Miangas menjadi bagian penting dari kunjungan tersebut.
Puskesmas yang belum diperbaiki sejak puluhan tahun lalu menunjukkan masih adanya ketimpangan pembangunan di wilayah terluar. Hal yang sama juga terjadi pada banyak sekolah di daerah terpencil. Anak-anak di perbatasan sering belajar dengan fasilitas seadanya, padahal mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Di titik ini, kunjungan Presiden seharusnya menjadi awal dari perubahan yang lebih besar. Negara tidak boleh hanya hadir saat kunjungan seremonial. Negara harus hadir melalui kebijakan yang benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ada beberapa langkah yang bisa menjadi jalan baru untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di wilayah perbatasan seperti Miangas dan daerah kepulauan lainnya.
Pertama, pemerintah perlu membangun pusat ekonomi desa berbasis hasil laut dan pertanian lokal. Wilayah kepulauan memiliki potensi besar di sektor perikanan, kelapa, pala, dan hasil kebun lainnya. Masalahnya selama ini bukan pada produksi, tetapi akses pasar dan distribusi. Banyak hasil panen dan tangkapan nelayan dijual murah karena rantai distribusi terlalu panjang.
Pemerintah bisa membangun koperasi modern yang langsung terhubung dengan BUMN pangan dan pasar nasional. Dengan begitu, petani dan nelayan tidak terus bergantung pada tengkulak.
Selanjutnya, pembangunan cold storage, pelabuhan kecil, dan transportasi logistik harus dipercepat. Daerah perbatasan tidak bisa berkembang jika biaya distribusi masih mahal. Harga kebutuhan pokok tinggi, sementara hasil produksi rakyat dijual rendah. Ketimpangan ini harus diputus.
Selain itu, pemerintah perlu menghadirkan program khusus untuk anak muda perbatasan. Banyak generasi muda di daerah terpencil memilih meninggalkan kampung karena merasa masa depan ekonomi terbatas. Padahal, jika diberi akses pelatihan digital, bantuan usaha, dan internet yang baik, mereka bisa membangun usaha dari daerahnya sendiri.
Nah, sektor kesehatan dan pendidikan harus menjadi prioritas utama. Renovasi sekolah dan puskesmas jangan berhenti pada pembangunan fisik. Pemerintah juga harus memastikan dokter, tenaga kesehatan, dan guru berkualitas benar-benar tersedia di wilayah terpencil.
Kunjungan Presiden Prabowo ke Miangas akhirnya memberi pesan penting bahwa Indonesia tidak hanya Jakarta dan kota-kota besar. Indonesia juga Miangas, Talaud, dan daerah-daerah kecil di garis terluar negeri ini.
Di tengah dunia yang semakin kompetitif, kekuatan sebuah negara bukan hanya diukur dari gedung tinggi atau pertumbuhan ekonomi nasional. Kekuatan negara juga terlihat dari bagaimana rakyat di wilayah paling jauh tetap merasa diperhatikan, dihargai, dan dilibatkan dalam pembangunan.
Karena pada akhirnya, rakyat di perbatasan bukan penonton Indonesia. Mereka adalah wajah paling depan Indonesia.[]
Penulis
Zulkarnaini






