DETIKMERDEKA – Ramadan di Jakarta selalu punya cerita. Sore hari di Masjid Istiqlal, suasana terasa seperti sebuah perjalanan. Dari pintu masuk, taman depan masjid sudah ramai.
Deretan tenant menjajakan gamis, hijab, hingga takjil. Aroma makanan bercampur dengan angin sore, membuat langkah terasa lebih ringan.
Menjelang Ashar, pelataran mulai dipenuhi orang. Ada yang duduk santai, ada yang bergegas mengambil wudu. Alda, pengunjung asal Bandung, memilih singgah sebentar.
“Sebenarnya cuma mampir sebentar untuk salat, duduk santai dulu di sini, ngabuburit kecil-kecilan. Habis itu mau otw ke lokasi bukber yang kebetulan dekat dari sini,” katanya.
Di sisi lain, Santi dari Bogor datang bersama anaknya. Mereka sibuk berfoto di depan pintu Al-Fattah.
“Sengaja datang dari Bogor untuk ngabuburit di sini, karena masjid ini terbesar di Indonesia jadi penasaran untuk ngerasain ngabuburit sambil nunggu buka puasa di Istiqlal,” ujarnya.
Selain itu Lastri dari Palembang punya rutinitas berbeda. Ia selalu meluangkan waktu tiga hingga lima hari di Jakarta untuk tarawih di Istiqlal.
“Setiap tahun sudah jadi rutinitas, tiga hari atau lima hari menyempatkan waktu untuk ke Jakarta dan salat tarawih di sini,” katanya.
Baginya, suasana tarawih di masjid ini terasa khusyuk dan penuh kekhidmatan.
Menjelang pukul 17.30 WIB, suasana semakin padat. Tenant makanan dipenuhi pembeli. Pengunjung duduk berkelompok, sebagian sibuk mengantre takjil.
Ketika azan magrib berkumandang, pelataran mendadak hening. Semua orang berhenti pada momen yang sama, lalu perlahan tersenyum, meraih air, dan menyantap makanan pertama.
Ngabuburit di Istiqlal bukan sekadar menunggu waktu berbuka. Ada rasa kebersamaan yang hangat.
Orang-orang dari berbagai daerah duduk berdampingan, berbagi tempat, bahkan berbagi makanan.
Ramadan di masjid terbesar Asia Tenggara ini terasa seperti perjalanan spiritual, sederhana namun penuh makna.[]













