JAKARTA – Pendiri sekaligus figur publik di balik brand fesyen Thanksinsomnia, Mohan Hazian, menyatakan mundur dari seluruh posisi dan keterlibatannya di perusahaan setelah mengakui tuduhan perilaku tidak pantas yang menyeret namanya. Pernyataan tersebut disampaikan langsung melalui unggahan terbuka di media sosial pribadinya.
Dalam pernyataan itu, Mohan tidak menyangkal tuduhan yang beredar di publik. Ia mengakui telah melakukan tindakan yang tidak semestinya dan menyampaikan permohonan maaf kepada pihak yang terdampak, termasuk kepada masyarakat luas. Ia juga menyatakan penyesalan atas perbuatannya serta menerima konsekuensi yang muncul dari kasus tersebut.
Menurut Mohan, keputusan untuk mundur merupakan bentuk tanggung jawab pribadi sekaligus upaya menjaga keberlangsungan perusahaan agar tidak terdampak oleh persoalan yang menimpa dirinya. Ia menegaskan tidak lagi terlibat dalam operasional maupun pengambilan keputusan di Thanksinsomnia.
Kasus ini menjadi sorotan setelah muncul pengakuan dari seorang perempuan yang mengaku mengalami pelecehan seksual dalam konteks kerja sama profesional dengan Mohan. Dugaan tersebut kemudian menyebar luas di media sosial dan memicu perhatian publik, terutama terkait isu keamanan dan perlindungan dalam lingkungan kerja kreatif.
Meski demikian, hingga kabar tersebut mencuat, belum terdapat informasi resmi mengenai laporan hukum yang diajukan ke aparat penegak hukum. Perkembangan kasus lebih banyak berlangsung di ruang publik melalui pernyataan para pihak di media sosial.
Dalam klarifikasinya, Mohan menyebut dirinya akan fokus pada proses refleksi pribadi dan bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukan. Ia juga meminta maaf kepada seluruh pihak yang merasa kecewa, termasuk rekan kerja, mitra, dan komunitas yang selama ini mendukung brand yang ia dirikan.
Pengunduran diri Mohan dari Thanksinsomnia menjadi babak baru bagi brand lokal tersebut yang selama ini dikenal di industri fesyen streetwear Indonesia. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari manajemen perusahaan terkait struktur kepemimpinan baru maupun langkah yang akan diambil ke depan.
Kasus ini kembali memunculkan perbincangan publik mengenai pentingnya etika profesional, batasan relasi kerja, serta perlindungan terhadap individu di industri kreatif, terutama dalam konteks relasi kuasa antara pelaku industri dan talenta.





