DETIKMERDEKA – Santri dan alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE) Jakarta dan Sekitarnya menyampaikan tabayyun dan klarifikasi atas somasi yang disampaikan oleh Gerakan Tabayyun dan Advokasi dan Keadilan (GERTAK) kepada Romo KH. Ahmad Musta’in Syafi’ie pada 25 Agustus 2026.
Dalam pernyataan sikapnya, IKAPETE Jakarta dan Sekitarnya menyampaikan sejumlah klarifikasi terkait pernyataan KH. Ahmad Musta’in Syafi’ie, termasuk mengenai penyebutan istilah Rois Aam, kapasitas keilmuan beliau, serta ibrah dari kisah Bal’am bin Ba’ura.
Kami, santri dan alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE) Jakarta dan Sekitarnya, dengan ini menyampaikan tabayyun dan klarifikasi atas somasi yang disampaikan oleh Gerakan Tabayyun dan Advokasi dan Keadilan (GERTAK) kepada Romo KH. Ahmad Musta’in Syafi’ie.
Adapun klarifikasi kami sebagai berikut:
1. Tentang penyebutan Rois Aam
Apa yang disampaikan oleh KH. Ahmad Musta’in Syafi’ie merupakan penjelasan yang didasarkan pada pemahaman dan pengetahuan beliau terhadap persoalan yang sedang dibahas. Dalam penyampaiannya, beliau tidak pernah menyebutkan nama seseorang secara spesifik sebagai Rois Aam.
Oleh karena itu, kami memandang penting agar pernyataan beliau dipahami secara utuh sesuai konteks pembahasan dan tidak ditafsirkan melampaui apa yang sebenarnya beliau sampaikan.
2. Tentang kapasitas keilmuan KH. Ahmad Musta’in Syafi’ie
Apa yang disampaikan oleh KH. Ahmad Musta’in Syafi’ie merupakan bagian dari ilmu yang telah beliau pelajari, pahami, dan ajarkan kepada para santri serta alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan pesantren-pesantren di sekitarnya, antara lain PP. Madrasatul Qur’an, PP. Walisongo Cukir, PP. Seblak, PP. MMH, dan pesantren lainnya.
Beliau dikenal sebagai ulama, pakar tafsir, penulis yang produktif, pengajar, sekaligus muballigh. Karena itu, kami meyakini bahwa apa yang beliau sampaikan merupakan bagian dari tanggung jawab keilmuan dan dakwah yang beliau jalankan, bukan didasarkan pada kepentingan pribadi ataupun hawa nafsu.
Sebagaimana prinsip yang dinisbatkan dalam Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW:
“Wa maa yanthiqu ‘anil hawaa. In huwa illaa wahyun yuuhaa.”
Dengan demikian, kami menghormati kapasitas keilmuan beliau sebagai seorang ulama yang selama ini mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan, pesantren, tafsir, dan dakwah.
3. Tentang ibrah kisah Bal’am bin Ba’ura
Ibrah atau perumpamaan yang disampaikan oleh beliau mengenai Bal’am bin Ba’ura merupakan pelajaran yang bersumber dari kisah yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
Kisah tersebut pada hakikatnya merupakan pelajaran bagi setiap orang agar tidak menyalahgunakan ilmu, kedudukan, maupun amanah yang dimilikinya.
Karena itu, penyampaian ibrah tersebut hendaknya dipahami sebagai nasihat dan pelajaran moral yang bersifat umum, bukan sebagai tuduhan atau penetapan terhadap individu tertentu.
Kami meyakini bahwa ilmu dan nasihat keagamaan harus ditempatkan sebagai sarana untuk melakukan introspeksi, menjaga amanah, serta memperbaiki kehidupan umat.
4. Sikap IKAPETE Jakarta dan Sekitarnya
Klarifikasi ini kami sampaikan sebagai bentuk tabayyun sekaligus jawaban atas somasi yang ditujukan kepada guru kami, Romo KH. Ahmad Musta’in Syafi’ie.
Di samping itu, kami menyampaikan keberatan secara terbuka terhadap segala bentuk pernyataan atau tindakan yang menurut pandangan kami dapat merugikan kehormatan pribadi KH. Ahmad Musta’in Syafi’ie maupun nama baik keluarga besar Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.
Apabila terdapat persoalan hukum, kami menyerahkan penyelesaiannya kepada mekanisme hukum yang berlaku dengan tetap mengedepankan prinsip tabayyun, keadilan, kehormatan ulama, serta persaudaraan sesama umat.
Kami berharap seluruh pihak dapat menahan diri, mengedepankan dialog, serta menyelesaikan setiap persoalan secara proporsional dan bermartabat.
Demikian tabayyun dan klarifikasi ini kami sampaikan. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk kepada kita semua untuk senantiasa menjaga ilmu, adab, ukhuwah, dan kehormatan para ulama serta pesantren.






