DETIKMERDEKA – Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia Don Muzakir menilai target swasembada pangan tidak akan tercapai jika hasil riset perguruan tinggi hanya berhenti di ruang kelas dan laboratorium. Kampus harus hadir mendampingi petani agar inovasi bisa diterapkan langsung di lapangan.
Pandangan itu menjadi dasar kerja sama antara Universitas Nurul Huda dan DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Sumatera Selatan yang ditandatangani di OKU Timur, pada Kamis, 5 Agustus 2026.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru turut menghadiri penandatanganan nota kesepahaman tersebut. Kehadiran Herman Deru bentuk dukungan terhadap kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi petani dalam memperkuat pembangunan sektor pertanian di Sumatera Selatan.
“Petani tidak kekurangan semangat. Yang masih kurang adalah pendampingan, akses teknologi, dan penerapan hasil riset. Kampus harus turun ke sawah. Jangan sampai penelitian selesai, tetapi petani tidak pernah merasakan manfaatnya,” kata Don Muzakir.
Menurut Don Muzakir, Indonesia memiliki banyak perguruan tinggi yang menghasilkan penelitian pertanian setiap tahun. Namun, sebagian hasil riset belum banyak dimanfaatkan oleh petani.
Kerja sama antara UNUHA dan Tani Merdeka Indonesia diarahkan untuk membuka ruang antara dunia akademik dan kebutuhan petani. Program yang disusun meliputi pendidikan, pelatihan, penelitian, hilirisasi hasil riset, digitalisasi pertanian, pengembangan benih lokal, hingga pemberian beasiswa bagi keluarga petani.
Rektor Universitas Nurul Huda Mukhamad Fathoni mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab agar hasil pendidikan dan penelitian dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.
“Kampus tidak boleh hanya menghasilkan teori. Hasil riset harus sampai ke petani dan memberikan manfaat nyata. Melalui kerja sama ini, kami ingin dosen, mahasiswa, dan peneliti hadir mendampingi petani, membantu menyelesaikan persoalan di lapangan, sekaligus menghadirkan inovasi yang bisa diterapkan,” kata Mukhamad Fathoni.
Menurut dia, kolaborasi dengan Tani Merdeka Indonesia menjadi bagian penting dalam mempercepat penerapan hasil penelitian.
“Kami berharap kerja sama ini melahirkan inovasi yang aplikatif, memperkuat hilirisasi hasil riset, serta membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi keluarga petani. Kampus harus menjadi mitra pembangunan pertanian, bukan hanya menjadi pusat pendidikan,” ujarnya.
Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Medi Ahmazon mengatakan petani membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan agar mampu menghadapi tantangan di sektor pertanian.
“Petani tidak hanya membutuhkan bantuan sarana produksi. Petani juga membutuhkan ilmu, teknologi, dan pendampingan. Kehadiran perguruan tinggi menjadi modal penting untuk meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola usaha tani,” kata Medi.
Menurut Medi, hasil penelitian dari kampus harus bisa diterapkan di lahan pertanian sehingga memberikan manfaat langsung bagi petani.
“Kami ingin hasil riset tidak berhenti di laboratorium. Inovasi yang dihasilkan harus sampai ke sawah, kebun, dan lahan pertanian. Kerja sama ini juga membuka kesempatan bagi petani untuk mengikuti pelatihan, sertifikasi, dan memanfaatkan teknologi pertanian yang lebih modern,” ujarnya.[]






