Detik Merdeka – Kemudahan akses informasi di era digital membawa konsekuensi baru: kebiasaan doomscrolling, atau konsumsi informasi negatif secara terus-menerus melalui media sosial dan platform digital.
Fenomena ini terjadi ketika seseorang terus menggulir layar tanpa henti, terutama untuk membaca berita buruk atau konten yang memicu kecemasan. Apa yang awalnya sekadar ingin “update informasi” kini berubah menjadi kebiasaan yang sulit dikendalikan.
Secara ilmiah, kecenderungan ini berkaitan dengan cara kerja otak manusia yang lebih peka terhadap ancaman. Dalam konteks digital, algoritma platform memperkuat pola tersebut dengan terus menyajikan konten yang relevan dan memancing emosi pengguna.
Menurut kajian yang dipublikasikan dalam Computers in Human Behavior Reports, kebiasaan doomscrolling berkorelasi dengan meningkatnya kecemasan, stres, hingga kelelahan mental. Sementara itu, laporan dari Harvard Medical School juga menyebut paparan informasi negatif secara berulang dapat memicu kecemasan berlebih dan memperburuk kondisi psikologis.
Dampaknya tidak hanya pada emosi, tetapi juga pada produktivitas. Organisasi kesehatan mental di Inggris mencatat bahwa konsumsi informasi berlebihan dapat menyebabkan gangguan fokus, sulit tidur, hingga penurunan kualitas hidup.
Kelompok usia muda menjadi yang paling rentan. Sejumlah studi menunjukkan Gen Z memiliki intensitas penggunaan media sosial paling tinggi, sehingga lebih berisiko mengalami doomscrolling dibanding generasi lain.
Fenomena ini tak lepas dari model bisnis platform digital yang berbasis attention economy, di mana semakin lama pengguna bertahan di layar, semakin besar keuntungan yang dihasilkan. Konten bernuansa negatif terbukti lebih efektif menarik perhatian, sehingga lebih sering dimunculkan oleh algoritma.
Para ahli menyarankan pembatasan waktu penggunaan media sosial, serta menyeimbangkan konsumsi informasi dengan aktivitas offline sebagai langkah untuk mengurangi dampak doomscrolling.
Di tengah banjir informasi, tantangan terbesar bukan lagi mencari berita, melainkan mengendalikan diri untuk berhenti.













