Harga BBM ASEAN Naik Imbas Geopolitik, Indonesia Relatif Stabil

banner 468x60

DETIKMERDEKA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) melanda sejumlah negara di Asia Tenggara dalam beberapa waktu terakhir, dipicu oleh ketegangan geopolitik global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah. Di tengah tren tersebut, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan kenaikan harga yang relatif paling terkendali.
Berdasarkan data perbandingan harga BBM di negara-negara ASEAN per 27 Maret 2026, hampir seluruh negara mengalami lonjakan signifikan dibandingkan periode pra-konflik (Januari–Februari 2026). Kenaikan ini dipengaruhi oleh tekanan harga minyak dunia akibat konflik di sekitar Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital distribusi energi global.

Malaysia mencatat kenaikan paling tinggi, dengan harga bensin RON 95 melonjak hingga 125 persen. Vietnam menyusul dengan kenaikan 100 persen, sementara Filipina naik sekitar 67 persen. Thailand dan Singapura juga mengalami kenaikan masing-masing sekitar 27 persen dan 37 persen.

banner 336x280

Di sisi lain, Indonesia menunjukkan kenaikan yang lebih moderat. Harga bensin RON 92 tercatat naik dari Rp12.300 menjadi Rp13.000 per liter atau sekitar 5,7 persen. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kenaikan harga BBM paling rendah di antara negara-negara yang dibandingkan.

Meski demikian, kondisi ini tidak lepas dari kebijakan domestik, termasuk skema subsidi dan pengendalian harga oleh pemerintah. Di dalam negeri, harga BBM non-subsidi memang sempat mengalami penyesuaian pada awal Maret, sementara BBM subsidi seperti Pertalite masih berada di kisaran Rp10.000 per liter.

Pengamat menilai stabilitas harga BBM di Indonesia memberikan bantalan terhadap daya beli masyarakat di tengah tekanan global. Namun, di sisi lain, kebijakan penahanan harga juga berpotensi menambah beban fiskal negara apabila tren kenaikan harga minyak dunia terus berlanjut.
Dengan dinamika geopolitik yang masih belum mereda, tantangan ke depan adalah menjaga keseimbangan antara stabilitas harga domestik dan keberlanjutan fiskal. Indonesia untuk saat ini relatif aman dibanding negara tetangga, namun tetap perlu waspada terhadap potensi gejolak lanjutan di pasar energi global.

banner 336x280