DETIKMERDEKA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa kemampuan militer Iran telah dilumpuhkan setelah serangkaian serangan yang dilakukan Washington. Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, pada 14 Maret 2026, Trump menyebut sekitar “100 persen kemampuan militer Iran” telah dihancurkan. Meski demikian, ia mengakui Teheran masih memiliki kemungkinan melakukan serangan terbatas, seperti mengirim drone, menanam ranjau laut, atau meluncurkan rudal jarak pendek di sekitar jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Menurut laporan Al Jazeera yang dihimpun pada 16 Maret 2026, Trump juga menyerukan negara-negara yang bergantung pada jalur tersebut untuk ikut terlibat dalam upaya pengamanan kawasan. Ia menyebut beberapa negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris sebagai pihak yang terdampak langsung apabila jalur pelayaran di Selat Hormuz terganggu. Dalam unggahannya, Trump menyatakan negara-negara tersebut seharusnya mengirimkan kapal militer guna memastikan jalur distribusi energi global tetap terbuka.
Trump lebih lanjut menegaskan bahwa militer Amerika Serikat akan terus meningkatkan tekanan terhadap Iran di kawasan pesisir Teluk. Dalam unggahan yang sama di Truth Social, ia menyatakan Washington siap melakukan serangan lanjutan terhadap wilayah pesisir Iran dan menargetkan kapal-kapal militer Teheran jika dinilai mengancam keamanan pelayaran internasional. Langkah itu, menurutnya, merupakan bagian dari upaya cepat untuk membuka kembali jalur perdagangan energi global yang sangat vital.
Lebih lanjut Yaseaj Sharma dalam Al Jazeera menyatakan, Trump juga mendorong pembentukan koalisi internasional untuk mengamankan jalur tersebut. Ia mengundang negara-negara yang menerima pasokan minyak melalui Selat Hormuz untuk mengirim kapal perang dan bergabung dalam operasi pengamanan. Secara khusus, ia meminta negara-negara anggota NATO ikut terlibat dalam koalisi tersebut, bahkan memperingatkan bahwa negara yang tidak mendukung upaya Amerika Serikat dapat menghadapi konsekuensi geopolitik di masa depan.













