DETIKMERDEKA – Di depan orang-orang, kami ibarat pasangan suami istri yang harmonis. Senyum selalu ditampilkan, genggaman tangan ditunjukkan. Namun, siapa sangka di balik itu kami sering tidur pisah ranjang meski satu atap.
Katanya, pernikahan berjalan dengan landasan kepercayaan. Jika kepercayaan luntur, jangan harap ada keharmonisan. Begitulah yang saya rasakan setiap kali melihat Andrew, suami yang berhasil melunturkan kepercayaan saya.
Pikiran selalu kembali ke 2022. Saat itu saya menemukan chat mesra di ponselnya dari seseorang bernama “Pak Wahyu”, nama samaran seorang perempuan.
Pesan itu membuat lutut saya lemas. “Sayang, kamu mau enggak nemenin aku nanti sampai malam di Jakarta. Aku takut nginap sendirian.”
Saya memberondong Andrew dengan pertanyaan. Ia akhirnya mengaku berselingkuh lewat aplikasi kencan daring. Permintaan maaf ia lontarkan, tapi saya menolak. Gugatan cerai sudah terlintas, hingga Tuhan berkata lain. Saya hamil empat bulan.
Kami memutuskan tetap bersama demi anak-anak. Namun, luka itu tak pernah sembuh. Kehidupan rumah tangga berjalan hambar. Tak ada lagi kecupan sebelum tidur, tak ada obrolan hangat di pagi hari. Kami lebih sering tidur di kamar berbeda.
Di mata tetangga, Andrew tetap sosok ayah bertanggung jawab. Ia hadir di rumah, mengurus anak-anak. Dari luar, keluarga kami tampak sempurna. Dari dalam, penyakit rumah tangga menjalar. Kami sekadar tinggal bersama karena kewajiban.
Pernah suatu hari kami menghadiri acara bersama. Senyum harus terus saya tampilkan. “Ya ampun, kalian makin mesra aja,” kata seorang teman. Saya tersenyum, padahal hati getir. Genggaman tangan Andrew terasa hampa.
Saya bingung apa yang membuat saya bertahan. Jawabannya mungkin anak-anak. Mereka berhak mendapat kasih sayang lengkap dari orang tuanya. Saya tak ingin mereka dikenal sebagai anak dari orang tua yang tak akur.
Meski harus tersiksa, saya memilih bertahan. Dari luar terlihat harmonis, dari dalam penuh retakan. Saya pun jadi aktris, memainkan peran agar keluarga tetap tampak utuh.[]













