DETIKMERDEKA – Pemerintah Iran meningkatkan kewaspadaan menyusul kehadiran kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, di kawasan Timur Tengah. Kehadiran armada militer tersebut dinilai menjadi sinyal meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran di tengah dinamika geopolitik regional.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Iran berupaya membuka jalur negosiasi setelah mengetahui keberadaan kapal induk tersebut. Trump menyebut Iran telah menghubunginya berkali-kali untuk membicarakan kemungkinan kesepakatan, namun upaya tersebut ditolaknya.
“Mereka ingin membuat kesepakatan. Saya tahu itu, dan mereka menelpon berkali-kali. Mereka ingin bicara,” kata Trump, Selasa (27/1/2026).
Selain mencoba menjalin komunikasi dengan Amerika Serikat, Iran juga dikabarkan menghubungi Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS). Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya diplomatik Iran untuk merespons meningkatnya potensi eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, Iran turut memberikan peringatan tegas kepada negara-negara tetangganya terkait tekanan yang diberikan Amerika Serikat. Perwira politik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mohammad Akbarzadeh, menegaskan bahwa Iran akan menganggap negara tetangga sebagai musuh apabila wilayah darat, udara, atau laut mereka digunakan untuk menyerang Iran.
“Negara-negara tetangga kita adalah teman kita. Namun, jika wilayah mereka digunakan untuk melawan Iran, maka negara-negara tersebut akan dianggap sebagai musuh,” ujarnya.
Seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (28/1/2026), otoritas Iran juga merilis Notice to Airmen (NOTAM) pada Selasa (27/1). Pemberitahuan tersebut dikeluarkan untuk navigasi udara dengan alasan adanya aktivitas militer berupa latihan tembak langsung di wilayah udara sepanjang Selat Hormuz.
Dalam pemberitahuan NOTAM itu, Iran menyatakan latihan tembak langsung di sekitar Selat Hormuz merupakan bagian dari latihan militer. Iran juga mengumumkan bahwa latihan tersebut berlangsung pada 27–29 Januari 2026, sekaligus menetapkan wilayah udara di sekitar Selat Hormuz sebagai zona terbatas dan berbahaya.
(arf)













