Pasar, Infrastruktur Ekonomi Nasional

banner 468x60

DETIKMERDEKA.COM – Pemerintah selalu Bilang bahwa Pasar Rakyat adalah salah satu infrastruktur ekonomi nasional. Sehingga selalu dijadikan acuan nilai inflasi daerah dan nasional atas beberapa bahan pokok yang kebanyakan dijual di pasar pasar rakyat atau tradisional.

Produsen pabrikan, menyampaikan bahwa PKL adalah ujung tombak marketing mereka, karena berdasarkan data mereka, PKL khususnya untuk industri rokok, dan minuman, mampu menyerap pangsa pasar mereka lebih dari 60%.

banner 336x280

Tiga raksasa produsen rokok menempatkan sektor pedagang warung rumahan atau pemukiman sebagai garda terdepan, sehingga terlihat mereka berlomba lomba memasang branding mereka di warung warung tersebut, dengan mencolok. Ada GGSP yaitu Gudang Garam Strategic Partnership, ada DRP Djarum Retail Partnership dan SRC Sampurna Retail Center / corporation 

Sebegitu pentingnya mereka memelihara dan menempatkan warung sebagai jaringan distribusi untuk .memasarkan produknya.

Ironisnya, keberadaan warung warung di tengah tengah pemukiman, disadari atau tidak banyak masyarakat saat ini, hanya melirik sebelah mata, berbelanja ke mini market pada saat persediaan uang belanja masih banyak, lalu datang ke warung untuk berutang pada saat akhir bulan.

Padahal, di lain pihak, group raksasa perusahaan rokok dan pabrikan lainnya, yang asetnya mencapai trilyunan rupiah. Tetap  menempatkan posisi Pasar, PKL dan warung pada posisi strategis dalam mendistribusikan produk produknya 

Berbanding terbalik dengan perhatian Pemerintah terhadap keberadaan sektor usaha retail yang berada di hilir seolah olah kurang serius dalam melindungi, membina, dan memberdayakan keberadaannya

Alasan kekurang seriusan pemerintah dalam hal itu, contohnya bagaimana melakukan revitalisasi pasar terkadang tidak sesuai dengan konsep pasar seharusnya, pengelolaan asal asalan, sehingga akibatnya banyak pasar yang bocor,dan banjir saat hujan turun.

Penulis melihat, itu merupakan fakta bahwa Pemerintah dari waktu ke waktu kurang serius melakukan pembinaan, atau keberpihakan pemerintah dari waktu ke waktu dari satu rezim ke rezim lainnya, belum maksimal keberpihakannya kepada pelaku usaha retail tradisional berskala mikro.

Di lain pihak organisasi organisasi komunitas pedagang, seperti APPSI, APKLI, IKAPI dan puluhan ribu organisasi lokal lainnya, sekuat tenaga melakukan perjuangan, berteriak tentang kondisi pedagang yang ada. Namun itu ternyata tidak cukup menyadarkan para pejabat yang terkait, khususnya para pejabat daerah, untuk sigap menerima masukan dan melakukan langkah konkret. 

Sementara itu, Pemerintah gencar mendorong tumbuhnya usahawan baru, dengan berbagai cara dan program, padahal membentuk jiwa usaha tidak segampang membalikkan telapak tangan.

Harusnya pemerintah melakukan prioritas pada komunitas yang telah ada, dengan cara melakukan pengembangan dan perkuatan komunitas para pedagang, agar berkembang dan kuat, tidak lain adalah para pelaku usaha perdagangan di pasar pasar, PKL PKL, warung warung. 

Itulah sebuah ironisme yang terjadi. Yang baru diburu, dipaksa paksa, sedangkan yang lama terlupakan. Menyadari banyak kendala dalam melakukan perjuangannya, beberapa orang pedagang mencoba untuk melakukan terobosan baru dengan cara membentuk organisasi baru yang mempunyai dua sisi perjuangan sekaligus, yaitu kerja sosial ekonomi dan politik. 

Nama bendera yang diusung adalah PAPERA, Pedagang Pejuang Indonesia Raya.

Pembentukan bendera baru ini, berangkat dari spirit para pejuang kemerdekaan, dengan kondisi apa adanya, tapi gelora untuk memenangkan peperangan terus berkobar, tanpa berhenti yang bermuara pada Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Selanjutnya, kalau kita cermati kiprah para pejuang dulu, kita ketahui menjalankan perjuangannya melalui dua sisi secara paralel, saling melengkapi dan saling menopang, yaitu perjuangan fisik dan diplomasi atau politik. 

Itulah sekilas titik hadirnya PAPERA berdiri. PAPERA sebagai pedagang pejuang dan pejuang pedagang harus piawai memerankan dua sisi misinya, yaitu :

1) bagaimana pedagang bisa kuat, berkembang dan mempunyai daya saing dengan pelaku usaha perdagangan lainnya. Itu merupakan perjuangan fisik dalam bentuk penyediaan sarana, modal, dan SDM yang memadai. 

2) bagaimana kepentingan pedagang bisa terakomodasi secara maksimal dalam setiap kebijakan negara, agar tidak tersisihkan oleh pelaku usaha besar. Dalam konteks ini tiga pilar sebagaimana lambang tiga kepalan tangan dalam logo PAPERA terimplementasikan melalui Pelindungan, Pembinaan dan Pemberdayaan. 

Dari sisi visi dan misi, PAPERA lebih berat ketimbang organisasi komunitas pedagang lainnya. Namun, karena topangan titik keberangkatannya, memakai spirit pejuang, maka tidak ada yang tidak mungkin bisa dicapai. Kun fayaakun. 

Sisi pertama PAPERA adalah kiprah nyata para pengurusnya bisa melakukan kerja kerja nyata sosial ekonomi demi kepentingan pedagang. Kerja nyata yang dirasakan oleh pedagang diyakini akan bermuara pada tenangnya pedagang berada di bawah perlindungan bendera PAPERA 

Pada sisi lain bagaimana PAPERA berkiprah pada sisi utama sebagai organisasi politik melakukan kerja kerja politik bagi peningkatan elektabilitas Prabowo sebagai pemenang kontestasi pada Pemilu tahun 2024 yang akan datang 

Sisi utama perjuangan PAPERA adalah pemenangan Prabowo sebagai Presiden, harus didahului oleh kerja sosial ekonomi, dengan kerangka kerja, membangun pondasi kepercayaan awal bahwa Prabowo-lah yang bisa mengemban amanah untuk lima tahun yang akan datang. 

Apabila kerja sosial ekonomi PAPERA menyentuh sisi kepentingan para pedagang, diyakini akan mampu mendorong peningkatan elektabilitas dalam memenangkan Prabowo bukanlah sesuatu hal yang sulit untuk dicapai. 

Artinya, kerja sosial ekonomi dan politik merupakan tiga pilar konkret, bentuk perlindungan, pembinaan dan pemberdayaan sebagai upaya penguatan keberadaan para pedagang dalam sistem perekonomian nasional. 

Kolaborasi sistem kerja yang dimainkan PAPERA di atas, apabila berhasil, insyaa Alloh akan terwujudnya sistem ekonomi kerakyatan yang dibangun dalam bingkai azas kekeluargaan dan hanyalah tinggal menunggu turunnya ridlo Alloh SWT. Aamiin 

Itulah PAPERA, yang telah berkhidmat sebagai salah satu sayap Partai Gerindra, harus tegak lurus dengan cita cita Gerindra dan sekaligus berjuang demi kepentingan pedagang 

oleh Nang Sudrajat (Sekjen DPP PAPERA)

banner 336x280