DETIKMERDEKA – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengusulkan pertemuan langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Turki sebagai langkah untuk membuka jalan penyelesaian konflik kedua negara. Zelenskyy berharap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dapat memanfaatkan hubungan diplomatiknya dengan Moskow untuk memfasilitasi perundingan tingkat tinggi tersebut.
Melansir CGTN, Senin (2/11/2026), Zelenskyy menyampaikan gagasan itu dalam wawancara dengan media pada Sabtu (31/10/2026). Ia menilai sejumlah persoalan penting dalam proses perdamaian tidak dapat diselesaikan hanya melalui perundingan delegasi maupun kelompok kerja teknis.
Menurut Zelenskyy, keputusan mengenai isu-isu strategis yang masih menjadi hambatan membutuhkan keterlibatan langsung pemimpin kedua negara. Karena itu, ia memandang dialog tatap muka dengan Putin sebagai langkah penting untuk menghasilkan kesepakatan yang memiliki kekuatan politik.
Sebagaimana dilaporkan China Media Group (CMG), Zelenskyy memilih Turki sebagai lokasi potensial pertemuan karena Erdogan memiliki jalur komunikasi yang telah terbangun dengan pemerintah Rusia. Hubungan tersebut dinilai dapat membantu menjembatani perbedaan kepentingan antara Moskow dan Kyiv.
Sementara itu, pemerintah Rusia memberikan tanggapan terhadap keinginan Zelenskyy untuk berunding secara langsung. Penasihat Kremlin, Yury Ushakov, menyatakan bahwa Putin pada prinsipnya tidak pernah menolak kemungkinan berdialog dengan Presiden Ukraina.
Mengutip kantor berita TASS, Ushakov mengatakan Zelenskyy dapat datang ke Moskow apabila benar-benar ingin mengadakan pembicaraan langsung dengan pemimpin Rusia.
“Dia mengirimkan sinyal melalui berbagai sumber. Jika dia benar-benar ingin bernegosiasi, dia bebas datang ke Moskow,” ujar Ushakov.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kedua pihak masih memiliki perbedaan pandangan mengenai tempat penyelenggaraan pertemuan. Ukraina mengusulkan Turki sebagai lokasi perundingan, sedangkan Rusia menawarkan Moskow.
Di tengah perkembangan tersebut, Erdogan menerima kunjungan Zelenskyy di Istanbul pada Sabtu (31/10/2026). Pertemuan keduanya membahas peluang diplomasi sekaligus perkembangan konflik yang semakin memengaruhi keamanan kawasan Laut Hitam.
Dalam konferensi pers bersama, Erdogan mengingatkan bahwa meningkatnya ketegangan militer, termasuk ancaman terhadap kapal-kapal sipil, berpotensi memperburuk situasi keamanan regional.
Menurut laporan kantor berita Xinhua, Erdogan meminta seluruh pihak mengedepankan sikap bertanggung jawab dan menghindari tindakan yang dapat memperluas dampak peperangan.
“Peningkatan ketegangan dan penargetan kapal sipil tidak akan menguntungkan siapa pun,” kata Erdogan.
Presiden Turki itu kembali menegaskan pentingnya diplomasi sebagai jalan keluar dari konflik berkepanjangan. Ia merujuk pada pengalaman Turki ketika menjadi tuan rumah perundingan awal antara Rusia dan Ukraina yang menunjukkan bahwa komunikasi diplomatik tetap dapat menghasilkan kemajuan.
“Perdamaian yang adil tidak mengenal pihak yang kalah,” tegas Erdogan.
Upaya mempertemukan Zelenskyy dan Putin muncul ketika konflik Rusia-Ukraina telah berlangsung lebih dari empat tahun sejak pecahnya perang skala penuh pada Februari 2022. Berbagai inisiatif diplomatik terus dilakukan, meskipun kesepakatan untuk mengakhiri peperangan belum tercapai.
Selain wacana pertemuan kedua presiden, proses diplomasi juga diarahkan melalui perundingan trilateral yang melibatkan Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Dalam perkembangan terbaru yang diberitakan CGTN pada Selasa (3/11/2026), Utusan Khusus Amerika Serikat Steve Witkoff menyampaikan bahwa perundingan tingkat kerja dijadwalkan berlangsung pada 10–11 November 2026.
Pembahasan tersebut direncanakan mencakup jaminan keamanan pascaperang, upaya meredakan ketegangan, langkah-langkah kemanusiaan, serta penyelesaian konflik Rusia-Ukraina.
Sebelumnya, proses perundingan yang dimediasi Washington dilaporkan mengalami hambatan menyusul operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.
Meski sejumlah jalur diplomasi mulai kembali diupayakan, kepastian mengenai pertemuan langsung Zelenskyy dan Putin masih belum diperoleh. Perbedaan sikap terkait lokasi perundingan menjadi salah satu persoalan yang perlu dijembatani sebelum kedua pemimpin dapat duduk bersama membahas masa depan perdamaian Rusia dan Ukraina.






