DETIKMERDEKA – China dan Uni Eropa (UE) mencapai kesepahaman terkait perdagangan kendaraan listrik dan hibrida setelah melalui serangkaian perundingan di Beijing. Kesepakatan tersebut diharapkan dapat mencegah meningkatnya ketegangan perdagangan sekaligus menjaga stabilitas hubungan ekonomi kedua pihak.
Dilansir dari CGTN, Senin (12/10/2026), juru bicara Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa kesepahaman tersebut merupakan hasil dialog berkelanjutan melalui mekanisme konsultasi perdagangan dan investasi China-Uni Eropa. Pembicaraan itu dilakukan untuk mencari solusi atas perbedaan kepentingan ekonomi dan perdagangan, khususnya di sektor otomotif.
Menurut Kementerian Perdagangan China, kedua pihak mengedepankan prinsip saling menghormati dan kesetaraan dalam perundingan. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menjaga hubungan perdagangan yang stabil sekaligus mengakomodasi kepentingan industri masing-masing.
Dalam perdagangan kendaraan hibrida, China dan Uni Eropa menyepakati tiga prinsip utama, yakni menghormati fakta, menghindari diskriminasi, serta memastikan seluruh kebijakan perdagangan sesuai dengan ketentuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Berdasarkan data Eurostat yang dikutip Kementerian Perdagangan China, impor kendaraan hibrida Uni Eropa dari China mengalami peningkatan signifikan. Pada 2024, jumlahnya tercatat sebanyak 107.000 unit dan meningkat menjadi 302.000 unit sepanjang 2025.
Mengacu pada angka perdagangan 2025, kedua pihak menyepakati pengaturan yang memberikan ruang peningkatan ekspor kendaraan hibrida China. Namun, pelaksanaannya tetap mempertimbangkan kondisi pasar dan kepentingan industri otomotif di kedua wilayah.
Pemerintah China juga menegaskan bahwa kebijakan perdagangan yang diterapkan Uni Eropa tidak boleh secara khusus menargetkan produk maupun perusahaan asal China. Dalam pengaturan kuota, China menyatakan jatah yang diperolehnya tidak boleh lebih rendah dibandingkan negara pemasok lainnya.
Selain itu, Beijing menekankan pentingnya kepatuhan terhadap aturan WTO. China tetap mempertahankan haknya untuk menempuh mekanisme penyelesaian sengketa maupun mengajukan kompensasi perdagangan apabila diperlukan.
Sementara itu, dalam perdagangan kendaraan listrik, kedua pihak sebelumnya telah mencapai penyelesaian melalui pendekatan kompromi terkait penyelidikan antisubsidi Uni Eropa pada Januari 2026.
Menurut laporan CGTN, Uni Eropa telah menerbitkan pedoman umum mengenai komitmen harga kendaraan listrik. Otoritas Uni Eropa selanjutnya akan melanjutkan proses penilaian terhadap usulan komitmen harga dari perusahaan yang terlibat dalam penyelidikan tersebut.
Secara terpisah, Reuters melaporkan bahwa pengaturan perdagangan kendaraan hibrida juga mencakup pembatasan volume ekspor ke pasar Eropa. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya Uni Eropa mengendalikan peningkatan impor kendaraan asal China sekaligus melindungi kepentingan industri otomotifnya.
Kendati demikian, pemerintah China memandang hasil perundingan sebagai langkah positif untuk menghindari konflik perdagangan yang lebih luas. Kesepahaman tersebut diharapkan mampu menciptakan iklim perdagangan dan investasi yang lebih stabil, terukur, serta memberikan kepastian bagi pelaku usaha.
China juga menilai kerja sama berdasarkan prinsip timbal balik dan saling menguntungkan dapat menjadi fondasi untuk mempertahankan hubungan ekonomi yang sehat dan berkelanjutan dengan Uni Eropa.






