Mengenal Syahganda Nainggolan, dari Aktivis Dilantik Jadi Kepala Bakom

DETIKMERDEKA – Presiden Prabowo Subianto melantik Syahganda Nainggolan sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat, 2 Oktober 2026.

Syahganda menggantikan Muhammad Qodari yang kini mendapat tugas baru sebagai Sekretaris Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) merangkap anggota. Fadli Tri Hartono juga dilantik sebagai Wakil Kepala Bakom. Pengangkatan Syahganda dan Fadli tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 106/P Tahun 2026 yang ditetapkan pada 1 Oktober 2026.

Penunjukan Syahganda menarik perhatian karena namanya lebih dulu dikenal sebagai aktivis, akademisi, pengamat kebijakan publik, dan tokoh yang lama terlibat dalam isu politik serta ketenagakerjaan.

Syahganda Nainggolan lahir di Medan pada 27 November 1965. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Geodesi dan Geomatika Institut Teknologi Bandung pada 1984 hingga 1989, tetapi tidak menyelesaikannya.

Syahganda kemudian menyelesaikan pendidikan sarjana di STIE I/BMI Jakarta pada 2002. Ia melanjutkan pendidikan magister Studi Pembangunan di ITB dan lulus pada 2005.

Gelar doktor diraihnya dari Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia pada 2015. Disertasinya membahas pengaruh jaminan upah layak, jaminan sosial, dan solidaritas sosial terhadap kesejahteraan buruh.

Syahganda juga pernah mengikuti short course di Fakultas Ekonomi Erasmus University, Rotterdam, Belanda, pada 1994-1995.

Nama Syahganda mulai dikenal sebagai aktivis ketika masih menjadi mahasiswa ITB pada era 1980-an. Aktivitas tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di dunia organisasi dan politik.

Sejumlah profil lama menyebut Syahganda pernah bergabung dengan Persatuan Daulat Rakyat. Ia kemudian ikut membentuk Partai Merdeka pada awal era Reformasi. Syahganda juga sempat menjadi calon anggota legislatif dari Partai Merdeka dan kemudian Partai Golkar.

Syahganda pernah ditahan pada Oktober 2020 setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara yang berkaitan dengan unggahan media sosial di tengah aksi penolakan Omnibus Law. Pengadilan Negeri Depok kemudian menjatuhkan vonis 10 bulan penjara pada April 2021.

Perjalanan Syahganda juga bersinggungan dengan pemerintahan dan badan usaha milik negara.

Ia pernah menjadi Komisaris PT Pelabuhan Indonesia II atau Pelindo II pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jabatan tersebut dijalankannya pada 2006-2008.

Syahganda kemudian kembali menekuni dunia kajian dan politik. Ia mendirikan Sabang Merauke Circle (SMC) pada 2010. Lembaga tersebut bergerak di bidang kajian kebijakan publik.

Ia juga pernah menjadi Executive Director Center for Information and Development Studies (CIDES) serta menjalankan sejumlah tugas sebagai staf khusus di lembaga pemerintah dan BUMN.

Syahganda juga aktif di dunia akademik. Ia tercatat mengajar Pengantar Sosiologi dan Sosiologi Politik di Jurusan Politik FISIP Universitas Kristen Indonesia sejak 2016.

Nama Syahganda kembali menjadi perhatian publik pada 2020 ketika ia menjadi salah satu tokoh Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI).

KAMI dideklarasikan pada Agustus 2020. Syahganda tercatat sebagai bagian dari kelompok yang ikut menginisiasi gerakan tersebut. KAMI saat itu menyampaikan sejumlah kritik terhadap kebijakan pemerintah, termasuk penolakan terhadap Omnibus Law atau UU Cipta Kerja.

Aktivitas Syahganda kemudian berlanjut melalui lembaga kajian baru.

Syahganda menjadi salah satu penggagas GREAT Institute atau Global Research on Economics, Advance Technology and Politics. Lembaga tersebut dibentuk pada awal 2025 dan secara resmi diperkenalkan kepada publik pada Juni 2025.

GREAT Institute menyebutkan Syahganda sebagai Ketua Dewan Direktur. Lembaga itu memusatkan kajian pada sejumlah isu, seperti ketahanan pangan dan energi, demokrasi dan hak asasi manusia, hilirisasi dan industrialisasi, serta geopolitik.

Presiden Prabowo kemudian menunjuk Syahganda sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah.

Presiden Prabowo melantik Syahganda bersama Fadli Tri Hartono sebagai Wakil Kepala Bakom pada Jumat 2 Oktober 2026. Prosesi berlangsung di Istana Negara dan diawali dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Pengangkatan keduanya berdasarkan Keppres Nomor 106/P Tahun 2026.

Syahganda menggantikan Muhammad Qodari. Qodari sebelumnya menjabat Kepala Bakom dan kini menjadi Sekretaris Wantimpres merangkap anggota.

Fadli Tri Hartono menjadi pendamping Syahganda sebagai Wakil Kepala Bakom.

Fadli merupakan lulusan S1 Fisika Institut Teknologi Bandung pada 2012. Ia kemudian meraih gelar Master of Public Administration dari Tsinghua University pada 2021.

Karier Fadli mulai berkembang di sejumlah lembaga pendidikan dan organisasi. Ia pernah menjadi Sekretaris Bidang Pengurus Harian Yayasan Pendidikan Kebangsaan Republik Indonesia pada 2019-2023.

Fadli juga pernah menjabat Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama Universitas Kebangsaan Republik Indonesia pada 2022-2023. Ia juga tercatat pernah menjadi Staf Khusus Menteri Sekretariat Negara.[]