Tiba-tiba Ada Cewek Cantik Ajak Kenalan, Ini yang Harus Anda Waspada

DETIKMERDEKA – Ajakan berkenalan dari perempuan atau laki-laki yang menarik di media sosial tidak selalu seperti yang terlihat. Pelaku penipuan daring atau scammer dapat memanfaatkan foto, identitas, hingga komunikasi melalui video call untuk mendekati calon korban.

Modus tersebut kembali menjadi perhatian setelah terungkapnya komplotan scammer internasional yang melibatkan eks artis Fabiola Elizabeth. Kelompok tersebut disebut menyasar korban melalui media sosial dan aplikasi kencan.

Pakar keamanan siber Vaksincom, Alfons Tanujaya, mengatakan pelaku scammer kini semakin mudah memanfaatkan teknologi untuk membangun kepercayaan korban. Sebagian pelaku bahkan sudah menggunakan video call berbasis kecerdasan buatan atau AI.

Kelompok yang melibatkan Fabiola memiliki pola berbeda. Pelaku menggunakan video call sungguhan yang dilakukan langsung oleh Fabiola untuk meyakinkan korban.

Meski teknologinya berkembang, pola dasar penipuan tersebut tetap sama. Pelaku lebih dulu membangun hubungan dengan korban sebelum mengarahkannya ke tahap penipuan.

Alfons mengatakan wajah menarik menjadi salah satu cara yang digunakan pelaku untuk membuat korban merasa mendapat perhatian khusus.

“Tipsnya agak nyakitin tapi realistis. Kalau kita sudah tahu kita ini kurang ganteng, katakan mukanya biasa-biasa saja, lalu tahu-tahu ada cewek cantik mati-matian minta kenalan lalu berinteraksi dan kamu percaya. Yah namanya bodoh,” kata Alfons.

Modus serupa juga dapat menyasar perempuan. Pelaku bisa menggunakan akun dengan foto laki-laki tampan untuk menarik perhatian calon korban.

Korban biasanya diajak berkomunikasi secara intensif. Pelaku berusaha membangun kedekatan hingga korban merasa nyaman dan percaya.

Fitur yang tersedia di media sosial turut memudahkan pelaku menemukan calon korban. Alfons menyebut fitur seperti *friend suggestion* atau *people you may know* dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan akun yang sebenarnya palsu.

Pengguna juga bisa menerima pesan langsung atau *direct message* dari akun yang tidak dikenal. Pesan tersebut biasanya berasal dari akun dengan foto profil menarik dan berisi ajakan untuk berkenalan.

Alfons mengingatkan pengguna agar tidak mudah percaya hanya karena seseorang terlihat menarik atau memberikan perhatian secara intensif.

Pengguna perlu memeriksa identitas akun sebelum melanjutkan komunikasi. Foto profil, riwayat unggahan, daftar pertemanan, serta pola komunikasi dapat menjadi petunjuk awal untuk melihat apakah sebuah akun mencurigakan.

Pelaku biasanya tidak langsung meminta uang. Mereka lebih dulu membangun hubungan dengan korban. Setelah kepercayaan terbentuk, korban dapat diarahkan ke skema investasi palsu atau bentuk penipuan lainnya.

“Itu isinya akun-akun nggak jelas semua, rata-rata pakai foto seksi minta jadi teman. Kalau diikuti, jadilah pig butchering scam,” pungkas Alfons merujuk pada istilah korban yang digiring untuk dikerjain habis-habisan.[]