Memerdekakan Petani
DETIKMERDEKA.COM-Indonesia adalah negara agraris dengan dua musim, dan sinar matahari yang memadai untuk sebuah negara agraris. Sehingga dua musim dan sinar matahari di sepanjang tahun memberikan kelebihan tersendiri bagi bangsa dan negara ini.
Di lain pihak, sebagai negara yang wilayahnya di sebut cincin api, di mana sepanjang pulau pulau dari barat sampai ke timur, dihiasi oleh pegunungan berapi yang juga bisa memberikan kesuburan bagi tanah pertanian. Maka lengkaplah negara kita disebut sebagai negara agraris, tanahnya subur, karena ditopang oleh berbagai anugrah alam yang diberikan Alloh SWT Tuhan yang maha pemurah, maha pengasih dan penyayang. Aamiin YRA.
Kesuburan alam Indonesia sebagai negara agraris sampai sampai menginspirasi sebuah lagu yang diciptakan Koes Plus, salah satu group band legendaris Indonesia,sepotong syair dan liriknya yaitu : _orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman_. Sebuah ilustrasi yang tidak berlebihan karena saking subur dan kayanya alam negara kita.
Kekayaan dan kesuburan alam Indonesia, ternyata tidak berkolerasi dengan kesejahteraan para petaninya.
Beberapa tantangan klasik selalu menjadi persoalan dalam dunia pertanian nasional antara lain :
1) semakin sempitnya lahan pertanian akibat alih fungsi yang tidak selektif dan tanpa kendali
2) penguasaan lahan yang timpang. Diketahui indeks penguasaan lahan pada tahun 2013 menunjukkan ketimpangan yang besar yaitu sebesar 0,58.
3) penyediaan bibit berkualitas belum memadai, sehingga sering terjadinya kesulitan bibit tanaman pada saat musim tanam tiba.
4) distribusi pupuk berbelit. Akibatnya, tidak jarang petani sulit memperoleh pupuk secara tepat waktu dan tepat jumlah. Hal itu berdampak pada rendahnya tingkat rendemen atau perolehan hasil panen tanaman yang dibudidayakan.
5) pola dan sistem pengelolaan pertanian yang cenderung masih konvensional. Hal itu berdampak pada seringnya harga jual komoditas pada saat panen rendah. Sehingga merugikan para petani.
6) perubahan iklim global.
Tingkat kehidupan petani yang belum masuk pada taraf sejahtera, tidak terlepas dari kualifikasi pelaku usaha tani ya g didominasi oleh petani gurem rumah tangga pelaku pertanian, yaitu sebesar 55,33% dari jumlah 98,53% pelaku usaha pelaku pertanian secara keseluruhan atau berjumlah sebesar 14,25 juta rumah tangga petani pengguna lahan, dengan luas lahan yang diolah hanya kurang dari 0,50 Ha saja.
Data data di atas adalah data hasil sensus pertanian tahun 2013. Sensus pertanian dilakukan dalam tenggung waktu setiap 10 tahun sekali. Sebuah tenggang waktu yang lama untuk sebuah sektor strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak, seperti halnya pertanian.
Padahal dalam konteks pengambilan kebijakan untuk sektor yang strategis seperti pertanian, lamanya tenggang waktu 10 tahun tentu saja akan menyebabkan data menjadi usang.
Sedangkan akselerasi perubahan di lapangan berjalan cepat bak deretan ukur. Artinya, kalau pengambilan kebijakan berdasarkan data yang tidak valid, akan menyebabkan tidak sinkron dan tidak tepatnya kebijakan dengan kondisi aktual lapangan saat ini. Dan itu adalah penyebab utama program menjadi tidak implementatif, dan hanya membuang buang anggaran negara saja.
Itu salah satu hal yang sampaikan oleh Presiden Jokowi pada saat launching sensus pertanian di awal tahun ini.
Sensus pertanian, memang telah dilakukan pada awal tahun 2023 ini. Tapi data hasil SP tahun 2023 belum di ekspose secara luas kepada masyarakat, bagaimana konfigurasi penguasaan lahan dan data sensus yang dihasilkan sebagai landasan kebijakan bicang pertanian selanjutnya.
Namun demikian, sensus pertanian tahun 2023 lebih variatif dan menyeluruh. Baik dari sisi objek sensus, maupun dari sisi metode atau sistem yang dipakai.
Contohnya, objek sensus tidak hanya sebatas melakukan sensus pada pelaku pertanian pengguna lahan saja, tetapi juga menyasar sektor usaha pertanian yang belum pernah masuk dalam sensus sebelumnya.
Mencermati tantangan klasik yang selalu dihadapi para petani, diperlukan sebuah langkah dan kebijakan yang bersifat _extra ordinary policy_. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh seorang pemimpin yang menghayati, memahami, berani dan punya keberpihakan terhadap rakyat kecil yang dalam hal ini adalah petani gurem yang mendominasi jumlah rumah tangga petani pengguna lahan.
Dalam konteks itu, Prabowo Subianto memiliki program percepatan prioritas, antara lain :
1) penyediaan bibit, pupuk, pestisida yang langsung ke petani dengan tepat waktu dan jumlah.
2) melakukan pengamanan panen dan pasca panen untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas pertanian
3) mendorong berkembangnya sektor usaha pertanian, sebagai upaya melakukan koneksitas antara sentra pertanian dengan konsumen, dalam kerangaka menciptakan integrasi hulu hilir bidang pertanian. Implementasi program integrasi hulu hilir tersebut, diharapkan bisa menjamin harga produk pertanian dalam posisi harga yang proporsional dengan kualitas produk yang baik.
Upaya tersebut, telah menjadi pilihan penting melalui percepatan skala prioritas Prabowo – Gibran nanti.
Sebagai upaya langkah konkret Memerdekakan Petani untuk mencapai kesejahteraan keluarganya . Aamiin aamiin aamiin YRA.
Itulah sebabnya komunitas Tani Merdeka terus bergerak dari satu desa ke desa lain, sebagai upaya membentuk jaringan pelaksanaan program konkret nanti, berupa distribusi pupuk, benih, pestisida langsung ke petani, dengan tujuan menghindari penyimpangan program pemberdayaan petani ke depan.
Wallohualam bisshowab
Semarang, 12 Nopember 2023
H. Nandang Sudrajat
Sekjen DPP Papera dan
Fungsionaris Tani Merdeka






