DETIKMERDEKA – Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) mengembangkan program percontohan untuk menguji pendekatan Jepang dalam penyelenggaraan makan sekolah dan memperkaya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Salah satu konsep yang dipelajari adalah shokuiku. Pendekatan tersebut menggabungkan pendidikan pangan dan gizi dengan pengalaman langsung siswa. Anak tidak hanya belajar mengenai makanan dan gizi melalui teori, tetapi juga mengenal proses penyediaan makanan dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.
Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea mengatakan pengalaman Jepang dapat menjadi referensi untuk mengembangkan pelaksanaan MBG di Indonesia.
“Melalui kerja sama ini, kami melihat bagaimana pendekatan shokuiku dapat memperkaya pengalaman anak dalam mengikuti program makan di sekolah. Jadi, makanan bukan hanya diterima dan dikonsumsi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses belajar mengenai pangan, gizi, serta pihak-pihak yang terlibat dalam penyediaannya,” ujar Prima dalam keterangan resmi.
Konsep tersebut dikembangkan ketika skala MBG di Indonesia terus bertambah. BGN mencatat program tersebut telah menjangkau 56,99 juta penerima manfaat per 31 Agustus 2026. Angka itu setara dengan 76,45 persen dari target 74,56 juta penerima manfaat.
Besarnya cakupan membuat kualitas layanan tidak hanya berkaitan dengan jumlah makanan yang didistribusikan. Cara makanan diproduksi, dikirim, disajikan, hingga diterima siswa ikut menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Rancangan MBG-JICA Pilot karena itu mencakup beberapa aspek. BGN dan JICA akan mengkaji pengurangan sampah dan sisa makanan, proses pengiriman dan penyajian, keterlibatan siswa dalam kegiatan makan, serta pendidikan pangan dan gizi.
Pilot tersebut dibagi menjadi dua komponen. Komponen pertama adalah Shokkan Trial di tingkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Komponen kedua adalah Shokuiku Activities di tingkat sekolah.
Shokkan Trial diarahkan untuk melihat pengalaman pada sisi penyedia layanan makanan. Proses yang diamati mencakup bagaimana makanan disiapkan dan disajikan kepada penerima manfaat.
Shokuiku Activities memiliki fokus berbeda. Kegiatan itu diarahkan untuk memberi pengalaman kepada siswa dalam memahami makanan dan gizi.
Kedua komponen tersebut kemudian dihubungkan. BGN ingin melihat apakah proses yang terjadi di dapur SPPG dapat memengaruhi pengalaman siswa ketika menerima dan mengonsumsi makanan di sekolah.
“Kami ingin melihat keterhubungan antara apa yang terjadi di tingkat SPPG dengan pengalaman anak ketika menerima dan mengonsumsi makanan di sekolah. Dari sana, kita dapat mempelajari aspek mana yang dapat mendukung peningkatan kualitas layanan sekaligus memperkuat edukasi pangan dan gizi,” kata Prima.
Konsep tersebut mengambil pelajaran dari Jepang yang memiliki pengalaman panjang dalam penyelenggaraan makan sekolah. BGN menyebut Jepang telah menjalankan program makan sekolah selama lebih dari 100 tahun dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai salah satu bahan pembelajaran untuk pengembangan MBG.
JICA sebelumnya juga bekerja sama dengan BGN dalam penguatan keamanan pangan dan edukasi gizi. Pada Februari 2026, keduanya menggelar seminar nasional mengenai praktik program school meal Jepang dan shokuiku. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 8.000 peserta secara luring dan daring, yang terdiri atas kepala dan ahli gizi SPPG, dinas kesehatan, serta unsur pendidikan.
Pengalaman Jepang tidak akan diterapkan seluruhnya di Indonesia. BGN menyatakan pembelajaran tersebut akan dipilah sesuai kebutuhan dan karakteristik pelaksanaan MBG di Indonesia.
“Kami berharap peserta dapat membawa pulang pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan. Tentunya tidak seluruh praktik dapat diterapkan secara langsung, tetapi esensi dan pembelajarannya dapat kita kaji untuk melihat apa yang relevan dengan kebutuhan dan karakteristik penyelenggaraan MBG di Indonesia,” tutur Prima.
Pendekatan seperti itu membuat kegiatan makan sekolah tidak hanya dilihat sebagai proses distribusi makanan. Siswa juga dapat mengenal asal bahan pangan, kandungan gizi, cara makanan disiapkan, serta alasan makanan tertentu menjadi bagian dari menu.
Aspek keterlibatan siswa juga mendapat perhatian. BGN dan JICA ingin melihat bagaimana pengalaman makan dapat membentuk pemahaman anak terhadap makanan yang mereka konsumsi.
Pengurangan sisa makanan menjadi salah satu area kajian. Persoalan tersebut berkaitan dengan jumlah makanan yang tidak dikonsumsi siswa dan bagaimana penyelenggara dapat memperbaiki proses penyajian agar makanan lebih sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat.
Pengiriman makanan juga ikut dikaji. Proses distribusi berkaitan dengan waktu makanan tiba di sekolah, cara penyajian, serta pengalaman siswa ketika menerima makanan.
Kajian tersebut berlangsung di tengah BGN melakukan pembenahan tata kelola MBG. Pada September 2026, BGN menghentikan sementara sejumlah SPPG yang tidak memenuhi ketentuan, termasuk terkait persyaratan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Pada 16 September, BGN menyatakan 1.276 SPPG disuspend karena belum memenuhi persyaratan tersebut.
BGN juga sebelumnya menghentikan secara permanen empat SPPG yang dinilai tidak memenuhi ketentuan operasional dan standar keamanan pangan. Keputusan itu menjadi bagian dari pengawasan terhadap kualitas layanan program.
Kondisi tersebut membuat pembelajaran dari Jepang tidak hanya menyentuh aspek pendidikan gizi. Tata kelola penyediaan makanan, keamanan pangan, pengiriman, pengurangan sampah, dan keterlibatan siswa juga masuk dalam kajian pilot.
Prima mengatakan BGN ingin melihat hubungan antara seluruh tahapan tersebut. Pengalaman siswa di sekolah menjadi salah satu indikator yang ingin dipelajari bersama proses yang berlangsung di SPPG.
Pendekatan shokuiku sendiri menempatkan makanan sebagai bagian dari siklus yang lebih luas. Siswa tidak hanya menjadi penerima makanan, tetapi dapat memahami hubungan antara pangan, gizi, produksi, pengolahan, penyajian, dan konsumsi.
Model tersebut juga membuka ruang bagi sekolah untuk terlibat lebih jauh dalam pelaksanaan MBG. Sekolah dapat menjadi tempat siswa memperoleh pengalaman langsung mengenai makanan yang mereka konsumsi setiap hari.
BGN kini menjadikan MBG-JICA Pilot sebagai ruang uji coba. Hasil kajian nantinya dapat digunakan untuk melihat bagian dari pengalaman Jepang yang sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan MBG di Indonesia.
Program tersebut bukan proyek untuk menyalin sistem Jepang secara utuh. BGN dan JICA justru menguji bagian-bagian tertentu untuk melihat mana yang relevan dengan kondisi Indonesia.
Pengembangan pilot juga memperlihatkan arah pembenahan MBG yang semakin luas. Program tidak hanya dinilai dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari pengalaman siswa, kualitas layanan SPPG, keamanan pangan, efisiensi distribusi, dan pemahaman anak mengenai pangan dan gizi.
Jumlah penerima manfaat yang sudah mencapai puluhan juta membuat perubahan kecil dalam sistem penyelenggaraan dapat berdampak luas. Karena itu, hasil uji coba MBG-JICA Pilot akan menjadi salah satu bahan untuk melihat apakah pendekatan pendidikan pangan dan gizi dapat diterapkan lebih luas.
BGN dan JICA masih berada pada tahap pengkajian. Belum semua praktik Jepang dapat dianggap cocok untuk diterapkan di Indonesia. Hasil pilot dan evaluasi terhadap pelaksanaannya akan menjadi dasar untuk menentukan pendekatan yang relevan bagi MBG ke depan.[]










