Darurat Beras

Darurat Beras

DETIKMERDEKA.COM,- Saat ini, kita dihebohkan oleh adanya kelangkaan beras di beberapa ritel modern, khususnya kemasan 5 Kg.

Memang beras kemasan 5 kg, merupakan segmen kalangan menengah ke atas, sehingga wajar mana kala terjadi kelangkaan langsung heboh. Padahal, akibat kelangkaan dan naiknya harga beras, bukan hanya dialami oleh kalangan menengah ke atas, tapi dialami juga oleh kalangan yang biasa mengkonsumsi beras medium, yaitu kalangan bawah, yang secara statistik jumlahnya lebih banyak.

Harga beras medium sebagai beras yang banyak dikonsumsi kalangan bawah, yang  awalnya berada di kisaran antara Rp 11 ribu per kg sampai dengan Rp 12 ribu per kg, sekarang sudah berada di harga Rp 16,5 ribu kemasan 25 kg dan Rp 17 ribu eceran di beberapa pasar atau warung rumahan.

Kelangkaan beras adalah pokok persoalan kenapa harga beras naik. Di sini berlaku hukum pasar, mana kalau pasokan kurang, maka akan mendorong naiknya harga. Itulah yang terjadi pada komoditas beras saat ini.

Berkaitan dengan itu, mari kita lihat apa penyebab terjadi minimnya pasokan beras  ke pasaran.

Ada dua penyebab utama, yaitu,Pertama. Faktor alam. Musibah Elnino yang melanda sebahagian besar dunia, tak terkecuali Indonesia.

Elnino telah menyebabkan kemarau panjang. Dampak kemarau panjang adalah gagal panen masa tanam sebelumnya dan mundurnya   masa tanam berikutnya.

Persoalan dampak elnino terhadap kondisi pertanian Indonesia khususnya tanaman padi, telah diprediksi oleh BPS. Bahwa tahun 2023,  akan terjadi penurunan produksi padi nasional sebesar 2,05%, yaitu dari 31,54 juta ton pada tahun 2022, turun menjadi 30,90 juta ton pada tahun 2023.

Penurunan itu, sejalan dengan menyusutnya luas panen tahun 2023, sekitar 2,45% atau 0,26 juta Ha, yaitu dari 10,45 juta Ha pada tahub 2022, menjadi 10,20 juta Ha pada tahun 2023.

El Nino, bukan hanya menyebabkan gagal panen, tetapi juga gagal tanam pada periode berikutnya. Gagal tanam tersebut,   mundur selama 3 bulan lebih, dari yang seharusnya. Artinya, mundurnya masa tanam selama 3 bulan lebih di beberapa wilayah sentra produksi padi nasional, sama dengan 1 periode masa tanam.

Itu artinya, kita kehilangan satu periode panen padi yang kalau mengacu pada masa panen tahun 2022 dan 2023, kita kehilangan peooduksi beras sebar 1/3 kemampuan produksi padi atau sama dengan 10,30 sampai dengan 10,51 juta ton.

Kondisi demikian, merupakan Force Majeure bagi kita. Sedangkan kebutuhan beras nasional, diketahui sebesar 2,5 juta ton per bulan. Dengan demikian,  akibat dampak El Nino, kita kehilangan kesempatan memproduksi beras, dengan volume sebagaimana  diuaraikan di atas, itu sama dengan,  kita kekurangan beras untuk masa konsumsi selama 4 bulan.

Persoalan Kedua adalah  secara nyata kita saat ini kekurangan pupuk. Kurangnya pasokan pupuk untuk kebutuhan petani, adalah rentetan dampak dari situasi geopolitik di kawasan laut hitam, yaitu terjadinya perang antara Rusia dengan Ukraina.

Kenapa demikian, fertilizer sebagai  sumber bahan baku pupuk utama, mayoritas diproduksi oleh negara eropa, dimana  jalur distribusinya melalui laut Hitam yang dikuasi oleh Rusia. Jadi apabila kita membutuhkan AN untuk bahan pupuk, tidak ada jalan lain harus ada izin dari otoritas Rusia sebagai pihak yang menguasai jalur pelayaran di laut hitam. Berdasarkan informasi,  ternyata izin tersebut memerlukan waktu tidak kurang dari 6 bulan. Dampak dari kondisi itu,  harga AN naik sampai 4 sampai  5 kali lipat. Itulah kenapa harga pupuk menjadi langka dan mahal.

Faktor alam tambahan lainnya, sedang terjadi saat ini, yaitu di beberapa sentra produksi padi, khususnya Jawa Tengah terjadi gagal panen,  akibat musibah banjir, antara lain Kudus, Pati dan Jepara.

Hikmah dari persoalan ini, ke depan negara harus gerak cepat melakukan upaya  program pengadaan pangan nasional, yang harus direncanakan secara tetintegrasi dari hulu ke hilir.

Program integrasi hulu – hilir dimaksud antara lain, Pertama melakukan ekstensifikasi lahan pangan nasional. Ini sebenarnya sudah dilakukan oleh pemerintah saat ini, melalui program Food Station meskipun banyak memperoleh kritikan. Tetapi, menurut hemat penulis  foodstation secara konsep sudah benar, dan patut dilanjutkan. Tinggal dilakukan evaluasi di mana tantangan dan kekurangannya. Lakukan evaluasi, guna melakukan  perbaikan pada tataran implementasi selanjutnya ke depan.

Program integrasi hulu – hilir, Kedua adalah melakukan pemetaan pola konsumsi rakyat per wilayah secara detail. Hal itu berkaitan dengan, jumlah volume kebutuhan masing masing wilayah pasti akan berbeda dari setiap jenis pangan yang dibutuhkannya. Sebagai contoh, pola konsumsi masyarakat perkotaan akan berbeda dengan masyarakat pedesaan. Misalnya, di perkotaan masyarakat akan lebih sedikit mengkonsumsi beras, dan lebih banyak mengkonsumsi sayuran serta daging atau ikan sebagai lauk pauknya. Dan terbalik dengan pola konsumsi kebanyakan masyarakat desa.

Pemetaan detail tersebut, penting guna bisa menghitung kebutuhan jenis dan volume pangan di setiap wilayah, sehingga selain memenuhi ketepatan volume kebutuhan juga bisa melakukan upaya efisiensi biaya distribusi serta gudang.

Selanjutnya, dalam konteks ini rasa rasanya, Prabowo lebih punya pasion menonjol, dalam melakukan pemenuhan pangan dan penyelamatan pertanian nasional.

Wallohualam bisshowab

Semarang 12 Pebruari 2024

Nandang Sudrajat
Ketua DPW APPSI JAWA BARAT
Sekjen DPP TANI MERDEKA