Aceh; Prabowo, SBY & Mualem
DETIKMERDEKA.COM,- Dalam politik, setiap simpul dan desain terkadang sulit diprediksi, cara main dalam membentuk politik juga penuh hal yang tak terduga, lepas dari prediktif. Bagitulah konstelasi pilpres 2024 yang menyambangi Aceh hari ini.
Siapa menyangka Prabowo Subianto, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Muzakir Manaf berkampanye dalam satu panggung untuk mencapai kemenangan politik di Aceh untuk Indonesia.
Bagi masyarakat yang gelap soal sejarah Aceh, memang gerak politik tiga sosok yang disebut di atas merupakan suatu hal biasa-biasa saja.

Namun demikian sejatinya tiga sosok tersebut secara tidak langsung merupakan simbol politik komunikasi Aceh. Dalam konteks ini, Prabowo pernah memenangkan elektoral dalam pilpres 2019. Waktu itu, bagi rakyat Aceh bahwa Prabowo adalah simbol anti Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dianggap menyusup pada poros pilpres 2019. Intinya, Prabowo unggul di Aceh meskipun berlabuh menjadi menteri pertahanan.
Maka layaklah Prabowo minta maaf kepada rakyat Aceh soal jarangnya ia berkunjung ke Aceh.
Selanjutnya, SBY. Siapa yang tidak kenal SBY di Aceh? Seorang yang juga disebut sebagai bapak perdamaian Aceh. SBY di Aceh terekam baik dalam memori rakyat Aceh semenjak ia menjadi presiden RI dua periode.
Peristiwa-peristiwa bersejarah bagi rakyat Aceh cenderung terjadi di masa pemerintahan Aceh, baik soal perampungan konflik Aceh hingga bencana Tsunami Aceh.
Kecapakan pemerintahan di masa kepemimpinan nasional SBY secara tersirat waktu itu bahwa SBY adalah presidennya orang Aceh.
Demikian halnya Mualem, panggilan akrab Muzakir Manaf, seorang bekas panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), sekaligus pernah menjabat sebagai wakil Gubernur Aceh, dan kemudian saat ini masih menjadi juru kunci kekuatan Partai Aceh (pertai lokal) yang mendominasi di parlemen Aceh.
Pertemuan padangan dan sikap politik Mualem dengan Prabowo dapat dianggap sebagai peristiwa bersejarah di dunia, di mana seorang yang dilekatkan kekentalan nasionalismenya (Prabowo) kemudian dapat akrab dengan seorang yang pernah diidentikkan dengan ingin merdeka dari RI (Mualem).
Dalam catatan Prabowo, petemuan dirinya dengan Mualem dapat diartikan sebagai apa yang disebut cara kerja politik jalan tengah.
Semua kepentingan nasional dan daerah dapat diakomodir dengan semestinya, simpul-simpul kekuasaan mampu mewujudkan itu. Dampak kedekatan Prabowo dengan Mualem kemudian berpengaruh pada postur atau sikap politik Mualem, sehingga ada anggapan bahwa partainya Prabowo merupakan kenderaan politiknya nasional Partai Aceh, demikian sebaliknya, ada juga yang beranggapan bahwa Partai Aceh merupakan ujug tombak patainya Prabowo di Aceh
Kaitannya dengan SBY, Mualem juga dikenal dekat dengan SBY, baik pada masa SBY sebagai presiden RI maupun pada masa Mualem menjabat sebagai wakil Gubernur Aceh. Pada saat patainya SBY diganggu oleh poros politik tertentu, Mualem turut menyuarakan pembelaannya terhadap partainya SBY.
Mencermati relasi Prabowo dan SBY degan Mualem saat ini, sungguh Mualem secara tidak langsung mendapat sokongan politik yang top, terlebih Mualem telah mendapat mandat sebagai “panglima” untuk memenangkan pasangan Prabowo-Gibran di Aceh.
Simpul politiknya tidak terhenti di situ. Mualem juga akan terkena dampak Jokowi effect, artinya pada sosok Mualem akan melekat kekuatan politik tiga orang yang berpengaruh di republik ini, yaitu Jokowi, SBY dan Prabowo.
Berpengaruh bukan saja disokong oleh dua orang presiden RI yang memimpin RI dua periode, tetapi juga diperkuat oleh dua orang ketum partai yang suara partainya di parlemen sangat menentukan arah politik republik ini.
Dari dampak bola salju politik yang dialami Mualem hari ini nyaris nalar politik liar publik pun menyala bahwa jalan politik Mualem for Gubernur Aceh 2024 sungguh potensial.
Terlebih Aceh semakin hari semakin kuat dari kontrol pemerintahan pusat. Aceh hari ini tidak lagi berdaya ketika ia terus menggelar pembangkangan politik terhadap pemerintahan pusat.
Sebab sudah terlihat sejumlah tumbal politik saat ada sosok-sosok yang terus melakukan pembangkangan politik terhadap pemerintah pusat. Baik itu soal bersarang di KPK maupun karir politiknya mati suri.
Sungguh situasi Aceh hari ini mesti lentur, jika terus-terus bersifat keras, ia akan patah dalam dan merugikan rakyat Aceh itu sendiri. Kini, salah-satu penentu nasib Aceh lima tahun ke depan, diakui atau tidak juga berada di garis tangan Mualem.
Sebab pada Mualem hari ini secara tersirat telah berstempel wajah Prabowo dan SBY hingga kunci kemenangan Prabowo-Gibran di Aceh.
Lantas bagaimana dampaknya bagi postur politik pembangunan di Aceh? Sungguh politik 2024 adalah momen mengadu nasib.
Oleh: Zulfata (Direktur Sekolah Kita Menulis /SKM) dan penulis buku “Membaca Indonesia: dari Kekuasaan, oleh dan untuk Kekuasaan)






