Apa Beda Pemilu 2024 dengan Pemilu 2019

Apa Beda Pemilu 2024 dengan Pemilu 2019

DETIKMERDEKA.COM- Dalam pemilu sebelumnya, pengumuman calon wakil presiden berbarengan dengan pengumuman calon presiden. Akan tetapi pada pemilu kali ini, masing-masing partai besar hanya mengumumkan calon presidennya saja, hingga kini cawapres yang mendampingi mereka urung diumumkan.

Hingga akhir Agustus, atau kurang dari dua bulan dimulainya pendaftaran capres dan cawapres, masing-masing dari capres belum memutuskan pendamping mereka secara resmi. Bahkan, sempat mengemuka wacana untuk menduetkan Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Namun batal akhirnya terjawab baru Anies Bawesdan – Muhaimin Iskandar yang belum lama mendeklarasikan sebagai Capres dan Cawapres walau akhirnya Partai Demokrat hengkang dari Koalisi 

Pemilu 2024 mendatang akan diikuti oleh 18 partai politik — lebih sedikit dari pemilu sebelumnya — yang lolos sebagai peserta, dan kemungkinan diwarnai pertarungan tiga bakal capres-cawapres. Dalam pemilu sebelumnya, ada 19 partai menjadi peserta.

Berbeda dengan pemilu 2019 yang dilaksanakan sesuai jadwal, pada pemilu kali ini isu penundaan pelaksanaan pemilu mengemuka. Pada 2022 lalu, sejumlah tokoh politik menyampaikan gagasan untuk menunda Pemilu 2024.

KPU menetapkan 204,8 juta daftar pemilih tetap pada Pemilu 2024, sekitar 114 juta orang Indonesia yang berhak mencoblos tahun depan berusia di bawah 40 tahun. Artinya nasib Indonesia, setidaknya dalam lima tahun ke depan, ditentukan oleh pemilih muda yang mendominasi pemilu.

Jumlah Pemilih

Dari jumlah itu, lebih dari 68 juta adalah kaum milenial yang lahir antara awal 1980-an dan pertengahan 1990-an.

Sebanyak 46 juta sisanya adalah anggota dari apa yang disebut Generasi Z, lahir antara pertengahan 1990-an hingga dekade pertama milenium ini, sebagian dari mereka adalah pemilih pemula.

Pemilu kali ini akan menjadi pertama kalinya warga Indonesia menyaksikan lebih banyak Gen Z — kelompok demografis yang secara luas dianggap apatis secara politik — terlibat dalam pemilu 

Kajian ini memperkirakan generasi muda Indonesia cenderung apatis terhadap perkembangan politik dan tidak se-nasionalis generasi sebelumnya. Pemilih muda juga tidak bisa dengan mudah didorong oleh preferensi keluarga mereka terhadap kandidat tertentu 

Karena jumlah pemilih muda sangat besar, partai politik dan kandidat potensial mulai menerapkan strategi media sosial untuk menarik mereka 

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Khoirunnisa Nur Agustyati mengatakan, pemilih muda ini erat hubungannya dengan media sosial, yang menjadi salah satu sarana distribusi informasi mengenai pemilu hingga kampanye, seperti dilansir dari laman bbc.com, Selasa (5/9/2023)

“Namun belum ada mitigasi risiko-risiko di media sosial, seperti disinformasi dan transparansi sehingga dibutuhkan penanganan terkait penangkalan disinformasi,” pungkas Khoirunnisa

Indonesia, negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, akan menggelar pemilihan umum yang diklaim terbesar di dunia pada 2024 mendatang. Jumlah total pemilih diperkirakan mencapai 74% dari total populasi Indonesia, sebagian di antaranya adalah pemilih pemula.