Musang Berbulu Domba

banner 468x60

Musang Berbulu Domba 

DETIKMERDEKA.COM- Seiring ambruknya demokrasi Indonesia, saat itu pula ketidakpercayaan publik semakin menipis 

banner 336x280

Budaya santun, saling bantu, gotong-royong, pengabdian secara cepat tergilas atas praktik pragmatisme yang semakin menggila. Sistem sosial kering dengan kearifan, nilai-nilai moral hanya sekadar bumbu-bumbu pidato resmi. Kemudian, persatuan atas nama bangsa Indonesia perlahan-lahan mengerdil menjadi persatuan partisan 

Komando proklamasi bergeser menjadi komando tipu sana tipu sini. Etika dan moral yang sejatinya menjadi perekat kesatuan sosial dan kedamaian masyarakat luntur dari pemilu ke pemilu 

Barangkali masyarkat Indonesia semakin mudah diperdaya dan ditipu melalui berbagai skema kerja lintas politik. Alih-alih menyelamatkan harkat dan martabat orang banyak, justru menciptakan bom waktu dalam menghadirkan perilaku sosial apa yang disebut homo homini lupus; manusia adalah predator bagi sesama manusia 

Aktivitas bersosial semakin menarik garis batas yang mencolok, acuh tak acuh atas penderitaan orang lain. Mulai dari kecurigaan yang berlebihan, pengkhianatan hingga pembodohan 

Sehingga misi mencerdaskan kehidupan berbangsa tidak benar-benar sedang dijalankan. Kecerdasan serta modal sosial lainnya justru dijadikan alat penindasan dan kekacauan sosial 

Demikian halnya arah penegakan hukum justru semakin berpihak pada kekuasaan yang perikemanusiaan. Pada akhirnya sistem sosial budaya di Indonesia terjerumus ke dalam politik praktis yang keji 

Hari ini, Indonesia telah berada pada fase tidak ada lagi seutuhnya rakyat yang percaya pemimpinnya, tidak ada lagi rakyat yang seutuhnya percaya atas perangkat negaranya 

Tidak ada lagi rakyat yang percaya kepada lembaga pendidikannya. Tidak ada lagi masyarakat yang gemar berbuat baik terhadap tetangganya. Pandangan rakyat terpaksa lebih memikirkan dirinya sendiri, lebih mengedepankan persaingan dari pada berdampingan. Lebih gemar memecah-belah kan dari pada menyatukan. Lebih percaya klaim politik dari pada keyakinan moral. Sungguh situasi dan kondisi sedemikian merupakan wujud bernegara yang amat naif 

Indonesia yang semakin jauh tenggelam ke dalam praktik negara kekuasaan secara tidak langsung telah melibas tembok-tembok kemaslahatan rakyat yang telah dibayar lebih oleh pendiri bangsa dengan taruhan nyawa, harta dan keluarga 

Rasa kolektif tidak lagi menghargai pengorbanan pahlawan  bukan saja karena mengenang pahlawan dengan cara seremonial belaka, tetapi juga dengan menumbuhkan praktik yang tidak memanusiakan rakyat Indonesia, baik melalui cara berpolitik, produk kebijakan hingga kondisi sosial yang sengaja diciptakan untuk dapat beradaptasi dengan ekosistem kebinatangan 

Hukum rimba tepatnya; Siapa yang “kejam” ia akan menjadi panutan 

Kewaspadaan dalam bersosial tidak satu tarikan nafas dengan perikemanusiaan, melaikan mesti cakap berhadapan dengan situasi yang disebut musang berbulu domba 

Musang berbulu domba menyebar di segala penjuru, di pemerintahan, di partai politik, di tempat ibadah, di pasar dan di seluruh tempat aktivitas kerakyatan 

Cara kerja dunia seakan telah memaksa rakyat Indonesia untuk mampu beradaptasi dengan kehidupan musang berbulu domba. Hirarki sosial di Indonesia tanpa disadari telah berubah seperti rantai makanan dalam pelajaran ilmu pengetahuan alam 

Yang paling atas memakan yang dibawahnya, kemudian seterunya memakan yang dibawahnya. Bagi yang terus berada di bawah sadar atau tidak akan selalu menjadi korban 

Atas kondisi sosial seperti itu pula, kalangan akar rumput di tengah keterbatasan yang dimilikinya, terpaksa mengambil jalan pintas untuk bertahan hidup 

Ada yang merampok, ada yang menjadi budak penguasa, ada yang menjadi perusak generasi bangsa dengan motif lainnya. Akhirnya postur hirarki kekuasaan di Indonesia merusak bangsa dari dalam 

Sebagai warga negara yang masih jernih berfikir dan menatap masa depan, kita tidak dapat membiarkan iklim sosial Indonesia dipenuhi oleh perilaku musang berbulu domba. 

Perilaku ini tentunya tidak hanya dihadapkan kepada calon pemimpin, tetapi juga karakter masyarakat di Indonesia. Indonesia harus dapat dibebaskan dari masyarakat yang tidak boleh menyerah melawan kekuasaan yang menyalahgunakan kekuasaannya 

Indonesia harus terbebas dari pola penjaringan pemimpin yang tidak jujur 

Ujung tombak menyelamatkan situasi dan kondisi Indonesia yang semakin memburuk dari dalam ini tentunya ada di tangan generasi muda yang militan, kreatif dan visioner agar tidak mengulang kesalahan generasi sebelumnya 

Dalam konteks ini pula, jangan sempat generasi muda Indonesia atau masyarakat Indonesia pasrah dan larut menikmati kehidupan dalam kawanan musang berbulu domba seperti yang dialami Indonesia hari ini 

Sehingga masih membicarakan Indonesia dan demikian manis dengan potensi kehebatannya, namun dalam kelakuannya menggerogoti nilai-nilai keutuhan bangsa dan negara dari hari ke hari

Oleh Zulfata
(Direktur Sekolah Kita Menulis / SKM dan penulis
buku “Membaca Indonesia: dari Kekuasaan, oleh dan untuk Kekuasaan)

banner 336x280