DETIKMERDEKA – Lonjakan harga bahan bakar pesawat atau avtur mulai berdampak pada industri penerbangan global. Sejumlah maskapai mengubah rute, menaikkan tarif, hingga membatalkan penerbangan.
Kondisi ini dipicu gangguan pasokan global akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Biaya operasional maskapai meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Mengutip Business Insider dan sejumlah sumber lain, pada Senin, 4 Mei 2026, maskapai mengambil langkah efisiensi untuk menekan beban biaya.
Maskapai tidak hanya mengurangi frekuensi penerbangan. Beberapa juga mulai menghapus rute yang dinilai tidak lagi menguntungkan.
1. Scandinavian Airlines
Scandinavian Airlines menjadi salah satu maskapai yang terdampak. Maskapai ini membatalkan sekitar 1.000 penerbangan, terutama rute jarak pendek di kawasan Nordik.
Kebijakan ini diambil sebagai respons langsung atas kenaikan harga avtur di Eropa. Selain pembatalan, tarif tiket juga disesuaikan untuk menjaga operasional tetap berjalan.
2. United Airlines
Langkah serupa dilakukan United Airlines. Maskapai ini membatalkan sejumlah penerbangan, khususnya pada jam sepi dan penerbangan malam.
Pengurangan ini difokuskan pada rute yang dinilai tidak menguntungkan dalam jangka pendek. Maskapai menyebut lonjakan harga bahan bakar berpotensi menambah beban hingga 11 miliar dollar AS per tahun.
3. Vietnam Airlines
Tekanan juga dirasakan maskapai di Asia. Vietnam Airlines menangguhkan tujuh rute domestik sejak awal April 2026.
Langkah ini dilakukan untuk menyesuaikan jaringan penerbangan. Maskapai juga membuka kemungkinan pemangkasan rute tambahan jika harga avtur terus naik.
4. Air New Zealand
Air New Zealand turut melakukan penyesuaian. Maskapai ini mengurangi sekitar 1.100 penerbangan atau lima persen dari total kapasitas.
Pengurangan difokuskan pada rute domestik dan jarak pendek. Maskapai juga menggabungkan penerbangan di luar jam sibuk untuk menjaga efisiensi.
5. AirAsia X
Langkah efisiensi juga diambil maskapai berbiaya rendah. AirAsia X berencana menaikkan harga tiket dan mengurangi kapasitas penerbangan.
Pendiri AirAsia X, Tony Fernandes, menyebut kebijakan ini tidak bisa dihindari.
“Kami kurangi rute di mana kami rasa tidak bisa menutup biaya bahan bakar,” ujar Fernandes.
Meski begitu, beberapa rute dengan permintaan tinggi tetap dipertahankan. Salah satunya penerbangan ke Bahrain yang dijadwalkan pada Juni 2026.
6. JAL dan ANA
Maskapai Jepang juga melakukan penyesuaian. Japan Airlines dan All Nippon Airways akan menaikkan biaya tambahan bahan bakar mulai Juni 2026.
Biaya tambahan ini bisa naik hingga dua kali lipat dari tarif saat ini. Penyesuaian akan dilakukan setiap dua bulan mengikuti harga pasar.
7. Batik Air Malaysia
Tekanan biaya juga dirasakan maskapai di kawasan Asia Tenggara. Batik Air Malaysia mengurangi 35 persen penerbangan berjadwal sejak awal April 2026.
Kebijakan ini diambil untuk menghemat sumber daya di tengah lonjakan harga avtur. Maskapai juga menawarkan cuti tanpa gaji secara sukarela kepada karyawan.
Langkah tersebut menunjukkan dampak luas dari kenaikan harga bahan bakar terhadap industri penerbangan. Maskapai harus menyeimbangkan biaya operasional dan permintaan penumpang.
Kondisi ini juga berpotensi berdampak pada penumpang. Harga tiket cenderung naik dan pilihan rute menjadi lebih terbatas dalam waktu dekat.[]






