Setiap 26 April, Ukraina memperingati tragedi Bencana Chernobyl. Tahun 2026 menandai 40 tahun peristiwa itu terjadi. Ledakan reaktor nuklir pada 26 April 1986 salah satu kecelakaan paling parah dalam sejarah dunia.
Banyak korban jiwa berjatuhan, dan dampaknya terasa hingga sekarang. Peringatan ini bukan sekadar mengenang masa lalu. Ini juga menjadi pengingat bahwa ancaman nuklir masih nyata dan butuh perhatian bersama.
Ironisnya, di hari yang sama, perang antara Ukraina dan Rusia masih berlangsung. Serangan militer terus terjadi dan kembali menelan korban sipil. Situasi ini menunjukkan kontras yang tajam. Di satu sisi, dunia mengenang tragedi kemanusiaan. Di sisi lain, kekerasan masih terjadi. Konflik ini belum menunjukkan tanda akan berakhir.
Lalu, apa sebenarnya akar masalahnya?
Konflik ini tidak muncul tiba-tiba. Ada beberapa faktor utama yang mendorongnya. Pertama, faktor geopolitik. Kedua, faktor demografis. Ketiga, faktor sosial dan politik di dalam negeri Ukraina. Ketegangan mulai memuncak pada 2014. Saat itu, rakyat Ukraina melakukan demonstrasi besar-besaran untuk menurunkan Presiden Viktor Yanukovych yang dinilai terlalu dekat dengan Rusia.
Di tengah situasi itu, Rusia mengambil alih wilayah Krimea. Langkah ini memicu kemarahan besar di Ukraina. Masyarakat pun terbelah. Ada yang pro-Rusia, ada juga yang ingin Ukraina lebih dekat ke Barat.
Krisis makin dalam ketika ratusan demonstran tewas. Tekanan politik semakin kuat. Yanukovych akhirnya melarikan diri, dan pemerintahan baru terbentuk. Pemerintah baru ini lebih condong ke Barat dan mendapat dukungan dari negara-negara Barat.
Masalah tidak berhenti di situ. Keinginan Ukraina untuk bergabung dengan NATO menjadi pemicu baru. Bagi Ukraina, NATO dianggap sebagai jaminan keamanan. Namun bagi Rusia, hal ini adalah ancaman. Rusia melihat ekspansi NATO ke Eropa Timur sebagai gangguan terhadap pengaruh dan keamanannya.
Ketegangan ini akhirnya meledak menjadi perang terbuka pada 2022. Serangan demi serangan terjadi. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Ukraina dan Rusia, tetapi juga dunia. Harga energi naik, rantai pasok terganggu, dan ekonomi global ikut terdampak.
Dalam kajian konflik, pemikiran Louis Kriesberg dan Bruce W. Dayton bisa membantu menjelaskan situasi ini. Mereka melihat konflik sebagai proses yang berkembang. Konflik biasanya berawal dari masalah yang tidak selesai. Jika dibiarkan, masalah itu bisa berubah menjadi krisis, lalu meledak menjadi kekerasan.
Itu yang terjadi dalam kasus Ukraina dan Rusia. Ketegangan politik dalam negeri berkembang menjadi konflik wilayah seperti di Krimea dan Donbas. Konflik tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berubah bentuk, lalu muncul kembali dengan skala yang lebih besar.
Menurut Kriesberg dan Dayton, konflik seperti ini tidak bisa selesai hanya dengan gencatan senjata. Menghentikan perang memang penting, tapi itu belum cukup. Akar masalahnya harus diselesaikan. Hubungan antar pihak harus diperbaiki. Cara pandang dan kepentingan juga perlu diubah.
Tanpa itu, konflik hanya akan berulang. Bahkan bisa muncul dalam bentuk yang lebih rumit.
Karena itu, upaya damai tidak boleh berhenti pada penghentian kekerasan. Perdamaian harus dibangun dari dasar. Harus ada perubahan nyata dalam hubungan antara Ukraina dan Rusia. Jika tidak, dunia mungkin hanya akan terus menyaksikan siklus konflik yang sama, berulang tanpa akhir.
Penulis
Khossinah
Mahasiswi Magister Sosiologi FISHUM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta



















