DETIKMERDEKA – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan, terutama terkait potensi dampaknya terhadap stabilitas jalur perdagangan energi global. Situasi yang melibatkan Iran dinilai berisiko memicu ketidakpastian serius, khususnya jika menyangkut akses terhadap jalur strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi salah satu titik vital distribusi minyak dunia.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menegaskan bahwa penutupan jalur tersebut bukanlah solusi yang realistis. Dilansir dari Bloomberg pada 2 April 2026, Macron menyatakan, “Ini tidak pernah menjadi opsi yang kami pilih dan kami pikir itu tidak realistis. Kita harus bisa membuka kembali selat ini karena posisinya strategis bagi energi, pupuk, dan perdagangan internasional, namun hal itu hanya bisa dilakukan melalui konsultasi dengan Iran.”
Lebih lanjut, Macron menyoroti risiko ketidakpastian global apabila akses terhadap Selat Hormuz berada dalam kendali sepihak. “Dunia juga tidak bisa hidup dalam situasi di mana Iran dapat memutuskan untuk membuka atau menutup selat tersebut dari satu hari ke hari berikutnya,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa pendekatan militer tidak akan menjadi solusi jangka panjang terhadap persoalan yang lebih kompleks, termasuk isu nuklir Iran. “Operasi militer yang ditargetkan, bahkan selama beberapa minggu, tidak dapat menyelesaikan masalah nuklir dalam jangka panjang,” kata Macron.
Pernyataan tersebut mencerminkan dorongan Prancis agar penyelesaian konflik dilakukan melalui jalur diplomatik dan dialog konstruktif, guna menjaga stabilitas kawasan sekaligus memastikan kelancaran perdagangan global.



















