Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan posisi strategis Indonesia dalam peta ekonomi global, khususnya melalui komoditas crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit.
Dalam pernyataannya, Amran menyoroti dinamika geopolitik dunia, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang kerap menjadi perhatian global karena jalur tersebut merupakan salah satu titik vital distribusi minyak dunia.
Namun menurutnya, Indonesia juga memiliki kekuatan yang tak kalah besar.
“Kalau Iran bisa menutup Selat Hormuz, kita bisa tutup yang lebih besar, yaitu CPO. Kita yang menguasai pasar dunia,” ujar Amran.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia merupakan pemain utama dalam industri sawit global. Berbeda dengan minyak bumi yang distribusinya bergantung pada jalur strategis seperti Selat Hormuz, sawit Indonesia memiliki pengaruh langsung terhadap berbagai sektor industri dunia.
CPO: Komoditas Strategis yang Sering Diremehkan
Amran menekankan bahwa CPO bukan sekadar bahan baku minyak goreng, melainkan komoditas turunan yang sangat luas penggunaannya, mulai dari pangan hingga industri kecantikan.
Produk turunan CPO antara lain:
- Minyak kelapa (edible oil)
- Margarin
- Produk skincare dan kosmetik
- Bahan baku industri makanan dan energi
Menurutnya, jika Indonesia menghentikan ekspor dalam skala besar, dampaknya akan langsung terasa secara global.
“Kalau ekspor kita 32 juta ton ditutup, dunia bisa terguncang,” tegasnya.
Posisi Indonesia di Pasar Global
Indonesia saat ini merupakan produsen dan eksportir CPO terbesar di dunia. Dominasi ini menjadikan Indonesia memiliki leverage besar dalam perdagangan internasional, khususnya terhadap negara-negara yang bergantung pada impor minyak nabati.
Amran juga membandingkan dengan Iran yang disebut hanya menguasai sekitar 20 persen minyak dunia, sementara Indonesia memiliki kendali signifikan terhadap pasokan sawit global.
Hilirisasi Jadi Kunci
Lebih lanjut, Amran menekankan pentingnya hilirisasi sebagai strategi utama untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sawit. Ia menyebut bahwa pengolahan CPO menjadi produk turunan bernilai tinggi akan memperkuat posisi Indonesia, tidak hanya sebagai pemasok bahan mentah, tetapi juga pemain industri global.
Langkah ini dinilai sejalan dengan visi pemerintah untuk:
- Mengurangi ketergantungan ekspor bahan mentah
- Meningkatkan nilai ekspor
- Menciptakan lapangan kerja di sektor industri turunan
Dampak Geopolitik dan Ekonomi
Pernyataan Amran juga mencerminkan bagaimana komoditas pertanian kini tidak hanya menjadi isu ekonomi, tetapi juga alat geopolitik. Dalam konteks global yang semakin tidak stabil, kontrol terhadap sumber daya strategis menjadi faktor penting dalam menentukan posisi tawar suatu negara.
Dengan potensi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memainkan peran lebih signifikan dalam percaturan ekonomi global, terutama melalui optimalisasi sektor pertanian dan perkebunan.
Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada sumber daya alam, tetapi juga pada bagaimana negara mampu mengelola dan memaksimalkannya sebagai instrumen strategis di tingkat internasional.



















