DETIKMERDEKA – Sentimen perubahan outlook peringkat utang Indonesia langsung menekan pasar modal domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 2,08% pada perdagangan Jumat (6/2/2026) setelah Moody’s merevisi outlook Indonesia menjadi negatif meski peringkat tetap di level investment grade Baa2.
Berdasarkan data RTI, IHSG parkir di level 7.935,26, sementara indeks LQ45 turun 1,66% ke posisi 815,58. Koreksi terjadi merata di seluruh indeks acuan, mencerminkan aksi jual investor merespons sentimen global dan domestik.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menjelaskan, revisi outlook menjadi faktor utama yang membebani pergerakan pasar saham.
“Walaupun S&P meningkatkan bahwa pelemahan fiskal dapat menambah tekanan penurunan peringkat jika tidak diimbangi oleh perbaikan di area lainnya,” ujar Ratna dikutip dari Antara.
Ia menambahkan, volatilitas pasar belum mengubah pandangan S&P Global Ratings yang masih mempertahankan outlook stabil terhadap Indonesia. Namun, risiko fiskal tetap menjadi perhatian investor.
Dari sisi fundamental domestik, pasar juga mencermati penurunan cadangan devisa Indonesia menjadi USD 154,6 miliar pada Januari 2026 dari sebelumnya USD 156,5 miliar pada Desember 2025. Penurunan dipicu pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia.
Selain itu, perlambatan sektor properti turut menjadi sinyal kehati-hatian. Indeks harga properti hanya tumbuh 0,83% (yoy) pada kuartal IV-2025, nyaris stagnan dari kuartal sebelumnya 0,84% (yoy) dan menjadi yang paling lambat sejak 2023.
Ke depan, pelaku pasar akan menanti rilis sejumlah data ekonomi domestik sebagai penentu arah IHSG berikutnya.
“Pada pekan depan, dari sisi domestik, pelaku pasar akan mencermati rilis data consumer confidence, data retail sales, serta data penjualan sepeda motor dan mobil,” kata dia.
Dengan kombinasi sentimen rating, fiskal, dan data makro, volatilitas pasar modal Indonesia diperkirakan masih tinggi dalam jangka pendek.



















