Critical Thinking vs Fomo: Siapa yang Menang di Era Scroll Endless?

banner 468x60

Penulis: Kathyrine Rosalia Susanti – Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (UNTAG Surabaya). Artikel ini ditulis untuk memenuhi tugas dari Drs.Widiyatmo Ekoputro, M.A. sebagai pengampu mata kuliah Logic and Critical Thinking

Critical Thinking vs Fomo: Siapa yang Menang di Era Scroll Endless? Pernah gak ketika kamu sedang asik melihat story di media sosial teman-teman, lalu melihat unggahan seseorang yang sedang berada di cafe populer baru.

banner 336x280

Sehingga impulsif ikut serta meskipun kamu tahu besok pagi ada kuis kuliah, dan  berujung kamu terlambat bangun? Itulah FOMO yang sedang memanipulasi pikiran kamu secara halus!

Masalah ini makin sering dirasakan oleh banyak orang di era digital seperti sekarang ini, terutama bagi gen-z kaya kita. Terkadang perasaan cemas/panik akan tertinggal trend lebih menguasai diri.Impulsif yang sulit dikontrol cenderung megalahkan logika berpikir kita dalam mengambil keputusan.

Tapi bagaimana jadinya kalau critical thinking berhasil kuasain kamu dan lawan si impulsif di era aliran konten tak berujung ini? Siapa kira-kira yang bakal jadi juara diakhir? Spill rahasianya disini.
Yuk sekarang kita bedah dulu masalah utamanya, yaitu FOMO yang bikin kacau kegiatan sehari-hari karena endless scroll, siap eksplor?

Kenalan Sama FOMO di era endless scroll

FOMO sendiri adalah singkatan dari “Fear of Missing Out” yang menggambarkan perasaan seseorang ketika takut ketinggalan sesuatu yang penting dan menarik. 

Contohnya seperti seperti acara sosial, aktivitas, kesempatan kerja, atau bahkan tren terbaru yang sedang ramai dibicarakan di media sosial atau pengalaman yang sedang dialami orang lain.

Perasaan FOMO ini cenderung bikin seseorang merasa gak tenang, gak puas sama pencapaiannya, bahkan iri sama orang lain. Sederhananya FOMO bikin kamu ketagihan scroll nonstop, pengen up-to-date semua hal terus-menerus dan ikut-ikutan hype, padahal gak semua hal cocok/relevan sama kebutuhan atau kebiasaan asli kita.

Critical Thinking Senjata Anti-FOMO

Nah kamu udah tau kan gimana polanya FOMO? Sekarang giliran senjata rahasia kita muncil buat lawan FOMO, yaitu Critical Thinking! 

Salah satu skill yang wajib kita punya di era serba modern ini adalah critical thinking atau proses berpikir tajam untuk menghadapi segala sesuatu yang muncul di media sosial. 

Critical thinking ajarin kita verifikasi informasi yang diterima, tanya “ini beneran worth it?”, dan pisahin Biar nggak cuma ikut-ikutan tren, tapi tahu mana yang beneran worth it. 

Biasanya ketika seseorang memiliki kemampuan berpikir kritis, maka orang tersebut akan jauh lebih pandai dalam mengambil keputusan, penerima informasi, pemecahan masalah, dan hal lain. 

Garis besarnya critical thinking merupakan kemampuan yang digunakan untuk berpikir lebih jernih dan rasional terhadap apa yang harus dilakukan maupun terhadap apa yang harus dipercaya. 

Bisa juga dimaknai sebagai kemampuan menganalisis, mengevaluasi dan menilai informasi secara logis dan objektif. 

Diperlukan sebuah pola pikir untuk mengevaluasi dan menganalisis kebenaran dari informasi tersebut. 

Orang dengan kemampuan berpikir kritis juga akan lebih tepat dalam mengambil sebuah keputusan terhadap masalah yang sedang dihadapi.

Critical thinking bukan sekedar “mikir dulu”, dibalik itu ada sistem lengkap buat nyelamatin kita dari impulsif. 

Sebagai orang yang berpikir kritis, kita gak bisa asal percaya atau ikutin suatu hal/trend waktu lihat story temen atau yang viral di media sosial, kaya Tiktok atau Instagram. 

Dari pada langsung percaya, critical thinking justru ajarin untuk cross-check sumbernya; “siapa yang post? Ada bukti apa? Research dulugak?”. 

Kita bisa pake cara CRAAP test (Currency, Relevance, Authority, Accuracy, Purpose), berikut penjelasan singkat yang bantu kamu lebih paham:
 

  • Currency (Kebaruan) Informasinya masih update nggak? Jangan sampai pakai data lama buat bahas isu yang terus berubah.
  • Relevance (Kesesuaian) Isinya nyambung nggak sama topik atau kebutuhan kita? Jangan keburu percaya kalau sebenarnya nggak relevan.
  • Authority (Sumber) Yang bikin atau nulis siapa? Sumbernya jelas, ahli, atau asal posting?
  • Accuracy (Keakuratan) Datanya ada bukti dan rujukannya nggak? Bisa dicek ke sumber lain atau nggak?
  • Purpose (Tujuan) Informasi ini tujuannya ngasih info, promosi, atau malah ngegiring opini?

Setiap pilihan perlu ditimbang untung-rugi yang sederhana, contonya: “keuntungan hari ini vs besok? pas sama rencana kita atau gak kira-kira?” Alasan mengapa berpikir kritis sangat dibutuhkan untuk menghadapi FOMO.

Karena itu membuat kita menjeda dulu sebelum menekan ‘beli sekarang’ gara-gara promo cepat atau ikut tren viral. 

Ada ruang buat menilai “perlu beneran gak?”,  serta mengatasi kecenderungan otak yang suka pilih info pro-FOMO saja (misal baca testimoni bagus doang), tapi berpikir kritis nyuruh kita untuk cari tau sisi negatifnya supaya ga termakan tipuan palsu.

Head to Head Battle

Sudah paham kedua kontestan utama kita kan? sekarang kita bandingkan langsung: FOMO versus berpikir kritis dalam situasi nyata kehidupan Gen Z.

Bayangkan kamu sedang melihat postingan Instagram teman yang memamerkan tiket konser K-pop eksklusif. 

FOMO jelas mendorong untuk segera membeli, sehingga dompet kosong dan membuat kita merasa menyesal karena tugas kuliah tertunda.

Namun, dengan berpikir kritis, kamu bakal berhenti sejenak buat mikir “berapa anggaran aku ya kira-kira? apa udah sesuai tujuan jangka panjang? Ada opsi streaming gratis?” Akhirnya, uang dialokasikan untuk kursus online yang lebih bermanfaat buat karir. 

Di ronde berikutnya, promo gadget viral di TikTok,FOMO bilang “harus punya untuk gaya”, tapi berpikir kritis menanyakan “Apa benar-benar dibutuhkan? Ada ulasan negatifnya gak? Ada alternatif lebih hemat?” Hasilnya, pilihan rasional tanpa penyesalan. 

Kesimpulannya, berpikir kritis mengalahkan FOMO sepenuhnya di era media sosial tak berujung, karena mengutamakan keuntungan jangka panjang daripada dorongan sesaat!

Hack dan Pemenang

Kita udah tahu siapa pemenangnya, berpikir kritis menjadi juara jangka panjang di tengah kekacauan digital ini, asalkan dilatih secara konsisten seperti latihan otak. 

Tips praktisnya adalah coba untuk hentikan sejenak selama 10 detik sebelum mengambil keputusan akibat scroll, tanyakan pada diri sendiri “apa bukti nyata bahwa ini bagus, bukan sekadar FOMO?”, lalu catat tingkat keberhasilan pilihan kamu di aplikasi catatan, kemudian bandingkan sukses versus kegagalan. 

Secara bertahap, FOMO akan kalah telak, dan kehidupan kamu lebih terarah tanpa dorongan impulsif!

(***)

Referensi

Prudential. (n.d.). FOMO: Memahami penyebab dan strategi mengatasinya dengan bijak. https://www.prudential.co.id/id/pulse/article/apa-itu-fomo/prudential

Gramedia. (n.d.). Critical thinking. 
https://www.gramedia.com/best-seller/critical-thinking/prudential

Penulis: Kathyrine Rosalia Susanti – Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (UNTAG Surabaya)

 

banner 336x280