Pakar Internasional Kembali Teliti Formasi yang Diduga Bahtera Nabi Nuh di Turki

DETIKMERDEKA – Tim pakar internasional mulai mengambil sampel inti dari Formasi Durupinar di Turki. Formasi berbentuk kapal sepanjang 157 meter itu selama puluhan tahun dikaitkan dengan dugaan lokasi sisa-sisa Bahtera Nabi Nuh.

Sampel diambil dari kedalaman hingga 18 meter. Tim akan membawa sampel tersebut untuk diteliti lebih lanjut guna mengetahui struktur geologi di bawah permukaan formasi.

Penelitian ini melibatkan arkeolog, ahli geologi, dan pakar ilmu tanah. Mereka tergabung dalam Noah’s Ark Scans, organisasi penelitian dan eksplorasi yang berbasis di California dan didirikan peneliti asal Amerika Serikat, Andrew Jones. Proyek tersebut juga melibatkan ilmuwan dan universitas di Turki.

Formasi Durupinar berada di Distrik Doğubayazıt, Provinsi Ağrı, Turki timur, di kawasan Gunung Ararat. Lokasi tersebut pertama kali teridentifikasi pada 1959 dan sejak itu menjadi perhatian peneliti maupun masyarakat yang tertarik dengan kisah Bahtera Nabi Nuh.

Perdebatan mengenai asal-usul formasi tersebut sudah berlangsung lama. Sebagian peneliti menyebutkan Durupinar sebagai bentukan geologi alami. Pandangan itu berbeda dengan kelompok yang menduga struktur tersebut memiliki kaitan dengan Bahtera Nabi Nuh.

Salah satu penelitian pada 1996 yang melibatkan pakar geologi Lorence Collins dan penjelajah David Fasold menyimpulkan bahwa Durupinar merupakan “formasi batuan alami sepenuhnya”.

Mereka juga menyebutkan teori yang menyatakan lokasi tersebut menyimpan sisa-sisa bahtera sebagai hal yang “tidak benar”.

Penelitian terbaru dilakukan untuk menguji kembali pandangan yang berbeda tersebut dengan metode geologi dan geofisika.

“Selama beberapa dekade, kaum skeptis memiliki satu jawaban sederhana untuk Formasi Durupinar yang berbentuk seperti kapal itu: formasi tersebut hanyalah bongkahan padat batuan alami,” demikian pernyataan Noah’s Ark Scans.

“Misinya jelas: menguji kebenaran penjelasan mengenai ‘batuan padat’ tersebut. Apakah formasi itu merupakan satu massa batu alam yang homogen? Apakah terdapat struktur internal di dalamnya? Di manakah letak batuan dasar yang sebenarnya di bawah formasi tersebut — dan bagaimana kelanjutan batuan dasar itu di lembah sekitarnya,” imbuh pernyataan tersebut.

Pendiri Noah’s Ark Scans, Andrew Jones, mengatakan data radar awal tidak menunjukkan adanya “tanda-tanda batuan padat yang homogen dan sederhana” di lokasi tersebut.

Tim penelitian bekerja sama dengan Bakhtar Research and Engineering LLC. Survey radar dipimpin Dr Khosrow Bakhtar, sedangkan penyelidikan yang lebih luas dipimpin arkeolog Cenker Atila dari Sivas Cumhuriyet University. Proyek 2026 tersebut telah memperoleh izin penelitian dari pemerintah Turki.

Tim juga menggunakan sejumlah metode geofisika untuk memetakan bagian bawah permukaan. Metode tersebut mencakup radar penetrasi tanah atau GPR, electrical resistivity tomography (ERT), pemetaan LiDAR, hingga pengeboran inti dan analisis laboratorium.

Noah’s Ark Scans juga membagikan video yang mereka sebut sebagai “rekaman pertama dari dalam Bahtera Nuh”. Rekaman tersebut dibuat menggunakan Gopher, robot bawah tanah yang dilengkapi kamera beresolusi tinggi.

Tim mengatakan robot itu dirancang untuk menjangkau bagian yang sulit dimasuki manusia. Video tersebut digunakan untuk melihat bagian dalam struktur yang sebelumnya dipetakan melalui pemindaian bawah permukaan.

Noah’s Ark Scans menyebutkan hasil pengamatan awal menunjukkan tidak adanya batuan dasar atau batuan padat di sejumlah bagian yang diperiksa. Klaim tersebut masih merupakan temuan awal tim dan belum menjadi kesimpulan ilmiah yang terverifikasi secara independen. Situs resmi proyek juga menyatakan bahwa penelitian mereka bertujuan menghasilkan dokumentasi geofisika dan tidak dimaksudkan untuk mengesahkan klaim sejarah atau keagamaan mengenai Bahtera Nuh.

Tahap berikutnya menjadi bagian penting dari penelitian. Tim berharap sampel inti yang diambil dari dalam formasi dapat membantu menjelaskan apakah struktur tersebut terbentuk secara alami atau memiliki unsur yang berasal dari aktivitas manusia.

Andrew Jones mengatakan tim berhasil mengambil sampel dari kedalaman hampir 18 meter.

“Belum ada batuan dasar atau batu kapur padat yang teridentifikasi dalam lubang-lubang yang dibor di dalam formasi tersebut,” sebutnya.

Pernyataan tersebut masih berdasarkan pengamatan awal selama proses pengeboran. Sampel yang telah diambil perlu menjalani pemeriksaan laboratorium sebelum tim dapat menarik kesimpulan mengenai kandungan dan struktur material di dalam formasi.

Pengumuman Noah’s Ark Scans pada 23 September 2026 menyebut pengeboran inti telah dilakukan hingga kedalaman 18 meter. Tim juga melaporkan adanya lapisan material organik serta beberapa rongga yang berisi lumpur dan air. Temuan tersebut masih akan diperiksa lebih lanjut melalui analisis pihak ketiga.

Penelitian tersebut belum menyatakan bahwa Formasi Durupinar terbukti sebagai Bahtera Nabi Nuh. Tim justru menggunakan pengeboran, pemindaian, dan analisis laboratorium untuk menguji berbagai kemungkinan mengenai asal-usul struktur tersebut.

Hasil penelitian yang lebih lengkap diperkirakan tersedia setelah sampel selesai dianalisis. Data tersebut akan menjadi bagian penting dalam menentukan apakah struktur Durupinar merupakan bentukan geologi alami atau memiliki karakteristik lain yang perlu diteliti lebih jauh.

Perdebatan mengenai lokasi tersebut pun belum berakhir. Formasi Durupinar tetap menjadi objek penelitian karena bentuknya yang menyerupai kapal, sementara kesimpulan ilmiah mengenai asal-usulnya masih menunggu hasil pemeriksaan geologi dan analisis laboratorium.[]