Harga Minyak Dunia Naik, Tuntutan Iran soal Selat Hormuz Kembali Picu Kekhawatiran Pasar

DETIKMERDEKA – Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan setelah Iran menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz hanya akan dilakukan apabila Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan yang diajukan Teheran. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek stabilitas pasokan energi global.

Mengutip laporan Al Jazeera, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman Oktober diperdagangkan di level US$84,11 per barel pada Senin (waktu GMT), atau naik sekitar 0,7 persen. Secara keseluruhan, harga Brent telah meningkat sekitar 16 persen dibandingkan sebelum pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Kenaikan harga tersebut dipicu oleh belum adanya kepastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelumnya menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Ketidakpastian itu mendorong pelaku pasar mempertahankan premi risiko pada harga minyak.

Kepala Analis Pasar KCM Trade yang berbasis di Sydney, Tim Waterer, mengatakan pasar masih menunggu perkembangan konkret dari proses negosiasi.

“Kurangnya pergerakan konkret, bersamaan dengan pertanyaan yang masih belum terjawab mengenai detail praktis dari setiap kesepakatan, membuat harga tetap memiliki premi risiko,” ujar Waterer kepada Al Jazeera.

Ia menambahkan bahwa setiap hari tanpa adanya kemajuan diplomatik membuat investor semakin berhati-hati dalam mengambil posisi di pasar energi.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan bahwa pembicaraan antara Iran dan Oman terkait Selat Hormuz hampir mencapai kesepakatan. Namun, menurut laporan Al Jazeera, Teheran menegaskan jalur tersebut tidak akan dibuka kembali sebelum Washington memenuhi sejumlah syarat, termasuk pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Iran serta pembayaran kompensasi atas kerugian akibat perang.

Sejak konflik pecah pada akhir Februari, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan tajam. Berdasarkan data platform pelacakan kapal MarineTraffic yang dikutip Al Jazeera, hanya terdapat sekitar 8 hingga 15 kapal yang melintasi selat tersebut pada 4–6 Agustus. Sebelum konflik, rata-rata sekitar 130 kapal melintas setiap harinya.

Iran juga kembali menegaskan haknya untuk mengendalikan lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut dan mengancam akan mengambil tindakan terhadap kapal komersial yang menggunakan jalur yang tidak disetujui pemerintah Iran. Sikap itu bertentangan dengan prinsip kebebasan navigasi yang diatur dalam hukum maritim internasional.

Ketegangan semakin meningkat setelah Uni Emirat Arab pada Sabtu mengutuk dugaan serangan rudal Iran terhadap sebuah kapal milik Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi. Selain itu, menurut data Organisasi Maritim Internasional (IMO) yang dikutip Al Jazeera, sejak konflik dimulai telah terjadi sedikitnya 64 insiden kekerasan terhadap kapal komersial yang mengakibatkan 17 korban jiwa, dengan sebagian besar insiden disebut berkaitan dengan Iran.

Di sisi lain, gejolak pasar energi tidak menghalangi penguatan bursa saham Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup menguat 2,1 persen, sementara Kospi Korea Selatan naik 0,65 persen dan Hang Seng Hong Kong menguat 1,1 persen.

Penguatan pasar saham tersebut mengikuti reli di Wall Street pada akhir pekan lalu setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan pelemahan, sehingga memunculkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga.

Waterer menilai pasar masih meragukan bahwa penyelesaian diplomatik dapat segera tercapai.

“Bahkan jika kesepakatan akhirnya diumumkan, sejarah menunjukkan bahwa pemahaman seperti ini bisa terbukti rapuh. Risiko pembalikan tren yang tersisa kemungkinan akan membatasi seberapa jauh harga minyak bisa turun jika terjadi terobosan diplomatik,” ujar Waterer kepada Al Jazeera.