Qatar Sebut Ada Kemajuan Upaya Akhiri Ketegangan AS-Iran, Teheran Tegaskan Belum Ada Negosiasi dengan Washington

DETIKMERDEKA – Pemerintah Qatar menyatakan bahwa para mediator internasional mulai mencatat kemajuan dalam upaya meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Perkembangan tersebut turut memengaruhi pasar energi global, ditandai dengan penurunan harga minyak di tengah harapan tercapainya solusi diplomatik. Namun demikian, Iran tetap membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut bahwa pembicaraan dengan Teheran telah dimulai. Hal itu dilaporkan CGTN, Selasa (5/8).

Menurut keterangan kantor Emir Qatar yang dikutip CGTN, Presiden Donald Trump dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon pada Selasa. Keduanya membahas berbagai upaya untuk mempersempit perbedaan antara Washington dan Teheran serta meningkatkan peluang tercapainya penyelesaian yang berkelanjutan.

Dalam percakapan tersebut, Sheikh Tamim menekankan pentingnya penyelesaian melalui jalur dialog. Ia juga menyerukan agar seluruh pihak mematuhi nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran yang disepakati pada pertengahan Juni, yang mengatur penghentian segera operasi militer sebagai langkah awal deeskalasi.

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyampaikan bahwa pembicaraan dengan Oman mengenai pengaturan transit di Selat Hormuz berlangsung secara positif dan masih berlanjut. Berdasarkan laporan media pemerintah Iran yang dikutip CGTN, pembahasan difokuskan pada pembentukan jalur pelayaran yang aman dengan tetap menjamin hak kedaulatan serta kepentingan keamanan nasional Iran dan Oman.

Di sisi lain, sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat menunjukkan optimisme terhadap perkembangan diplomatik tersebut. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan telah terdapat kemajuan dalam pembicaraan, meski belum ada kepastian mengenai hasil akhirnya.

“Ada kemajuan yang dicapai dalam pembicaraan tersebut, tetapi belum ada kepastian. Kami berharap itu akan segera terjadi,” kata Rubio kepada wartawan.

Senada dengan Rubio, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa kesepakatan terkait pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz berpotensi tercapai pada Selasa atau Rabu.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump pada Senin menyatakan bahwa komunikasi dengan Teheran telah dimulai dan menyebut Iran tengah menghadapi “kesempatan terakhir” untuk mencapai kesepakatan. Namun, pemerintah Iran tetap menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada proses negosiasi yang berlangsung secara langsung dengan Amerika Serikat.

Pernyataan Trump itu muncul setelah ia memutuskan membatalkan rencana yang disebutnya sebagai “serangan besar-besaran” terhadap Iran pada akhir pekan lalu. Menurut CGTN, keputusan tersebut kembali menunjukkan pola pendekatan Trump yang kerap melontarkan ancaman tindakan militer sebelum kemudian membuka ruang bagi jalur diplomasi.

Israel-Lebanon Lanjutkan Perundingan di Roma

Di tengah dinamika hubungan AS-Iran, Israel dan Lebanon juga melanjutkan pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat di Roma. Berdasarkan laporan CGTN, perundingan tersebut bertujuan memajukan pengaturan keamanan di sepanjang perbatasan kedua negara sekaligus mengimplementasikan kesepakatan kerangka kerja yang dicapai di Washington pada akhir Juni.

Pertemuan yang berlangsung selama tiga hari di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Roma itu mempertemukan delegasi teknis dari Israel dan Lebanon dalam mekanisme trilateral yang didukung Washington.

Agenda pembahasan mencakup pengaturan keamanan di Lebanon selatan, penyelesaian sengketa perbatasan, hingga isu pelucutan senjata Hizbullah. Mengutip laporan Euronews, Washington memandang pelucutan senjata kelompok tersebut sebagai salah satu prasyarat utama untuk mewujudkan stabilitas jangka panjang di kawasan.

Sementara itu, The Times of Israel melaporkan bahwa delegasi Israel berharap dapat membentuk kelompok kerja khusus yang akan membahas penetapan batas wilayah, pelucutan senjata Hizbullah, rekonstruksi wilayah Lebanon selatan, serta sejumlah isu strategis lainnya. Delegasi Israel juga melibatkan pejabat dari Angkatan Pertahanan Israel (IDF).
Di sisi lain, Pemimpin Hizbullah Naim Qassem kembali menegaskan penolakan organisasinya terhadap proses perundingan maupun kesepakatan kerangka kerja yang tengah dibahas.

Putaran pembicaraan kali ini menjadi pertemuan ketujuh yang dimediasi Amerika Serikat dan merupakan kedua kalinya Roma menjadi tuan rumah dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, sebagaimana dilaporkan CGTN.