Bencana Sumatra 2025: Muhasabah di Balik Banjir Bandang dan Tanah Longsor . Penulis: Yudi Cahyadi, S.Pd.I – Mahasiswa Pascasarajana PAI Unisma Bekasi
SEJAK akhir November hingga Desember 2025, rangkaian bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan tanah longsor melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Berdasarkan data resmi BNPB per 17 Desember 2025, tragedi ini telah mengakibatkan setidaknya 1.059 jiwa meninggal dunia dan 192 orang lainnya dinyatakan hilang.
Analisis Kondisi dan Dampak
Bencana ini melanda sekitar 50 kabupaten/kota, memaksa lebih dari satu juta orang untuk mengungsi. Aceh menjadi wilayah terdampak paling parah dengan korban jiwa mencapai lebih dari 450 orang. Sebanyak 225 kecamatan terendam, mengakibatkan krisis pangan dan ribuan rumah rusak. Di wilayah seperti Tapanuli Tengah dan Tarutung menghadapi tantangan akses yang terputus total akibat longsor, mengisolasi warga dari bantuan logistik.
Sedangkan di Sumatera Barat, wilayah seperti Kabupaten Pesisir Selatan mengalami kerusakan masif dengan belasan ribu rumah terendam, sementara infrastruktur vital di Padang Pariaman lumpuh akibat kombinasi longsor dan banjir.
Para ahli menyoroti bahwa intensitas bencana ini bukan sekadar faktor alam, melainkan dampak dari rapuhnya ekosistem hutan di wilayah hulu. Temuan di lapangan menunjukkan adanya gelondongan kayu besar yang terbawa arus banjir, mengindikasikan dampak nyata dari aktivitas penebangan hutan.
Perspektif Al-Qur’an: Alam sebagai Tanda dan Peringatan
Dalam menyikapi bencana ini, Al-Qur’an memberikan kerangka berpikir yang komprehensif:
1. Akibat Ulah Tangan Manusia
Islam mengajarkan bahwa kerusakan alam seringkali bersumber dari perilaku manusia yang tidak amanah dalam mengelola bumi. Hal ini ditegaskan dalam QS. Ar-Rum: 41:
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat ini sangat relevan dengan fenomena deforestasi dan penambangan liar yang sering menjadi pemicu utama longsor dan banjir di Sumatera.
2. Keseimbangan Alam (Mizan)
Allah menciptakan alam dalam keseimbangan yang presisi. Bencana terjadi ketika manusia merusak keseimbangan (mizan) tersebut, misalnya dengan mengubah fungsi hutan lindung menjadi lahan pertanian yang tidak terasering.
3. Ujian dan Pengingat
Bencana juga berfungsi sebagai tadzkirah (pengingat). Dalam QS. Al-Baqarah: 155,
وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ
Allah menyatakan bahwa ujian berupa ketakutan, kelaparan, dan kehilangan harta adalah cara untuk menguji kesabaran dan keimanan manusia.
Tragedi Sumatra 2025 adalah panggilan bagi seluruh elemen masyarakat untuk mempercepat proses pemulihan dan penanggulangan. Lebih dari itu, ini adalah pengingat spiritual untuk berhenti merusak alam sebagaimana dilarang dalam berbagai ayat Al-Qur’an (seperti QS. Al-Baqarah: 60) agar keseimbangan bumi tetap terjaga demi keselamatan generasi mendatang.
Penulis: Yudi Cahyadi, S.Pd.I
Mahasiswa Pascasarjana PAI Unisma Bekasi













