DETIKMERDEKA – Tani Merdeka Indonesia bersama Aliansi Masyarakat Petani menyampaikan penolakan tegas terhadap pernyataan Feri Amsari yang menyebut keberhasilan swasembada pangan sebagai “kebohongan publik”.
Koordinator aksi, Aiman Adnan, menilai narasi tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dan berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Ia menegaskan, pernyataan tersebut juga dinilai merendahkan kerja keras petani dan pelaku distribusi pangan di seluruh Indonesia.
“Pernyataan seperti ini tidak hanya menyesatkan, tetapi juga merendahkan kerja keras petani dan pedagang di seluruh Indonesia. Kami mendesak aparat penegak hukum untuk segera bertindak tegas,” ujar Aiman.
Menurutnya, penyampaian informasi yang tidak berbasis data berisiko memperkeruh situasi dan memicu perpecahan di tengah masyarakat.
“Jangan sampai opini yang tidak berdasar justru memicu keresahan publik dan merusak persatuan bangsa. Kami meminta Kepolisian segera menangkap Feri Amsari dan pihak yang diduga menyebarkan hoaks tersebut,” tegasnya.
Aliansi tersebut juga menilai pernyataan yang menyebut swasembada pangan sebagai kebohongan merupakan bentuk provokasi yang dapat mengganggu stabilitas sosial. Mereka menegaskan bahwa capaian di sektor pangan merupakan hasil nyata yang dirasakan langsung oleh petani maupun masyarakat luas.
Untuk memperkuat argumen tersebut, Aiman memaparkan data dari Badan Pangan Nasional yang menunjukkan produksi beras Indonesia pada 2025 mencapai 34,71 juta ton. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya dan menghasilkan surplus sekitar 3,52 juta ton.
“Ini bukan sekadar klaim. Ini fakta di lapangan. Produksi meningkat, stok tersedia, dan masyarakat bisa mengakses pangan dengan baik,” kata Aiman.
Selain itu, stok beras yang dikelola Bulog disebut mencapai 3,24 juta ton pada akhir 2025, menjadi salah satu yang tertinggi dalam sejarah cadangan beras nasional.
Aliansi juga menegaskan dukungan terhadap kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.
Aiman turut mengingatkan pentingnya tanggung jawab dalam menyampaikan pernyataan di ruang publik, terutama terkait isu strategis seperti pangan.
“Petani dan pedagang akan terus berada di garis depan menjaga pangan negeri. Kami tidak akan diam ketika kerja keras kami direndahkan oleh informasi yang tidak benar,” pungkasnya.



















