DETIKMERDEKA – Lembaga survei Poltracking Indonesia mencatat tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mencapai 74,1 persen. Survei itu dilakukan pada 2–8 Maret 2026.
Peneliti Utama Poltracking Masduri Amrawi menyebutkan, salah satu faktor utama tingginya kepuasan publik adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini dinilai paling banyak mendapat perhatian masyarakat.
“Jadi program ini selain sebagai program prioritas, juga program paling fenomenal, paling disorot oleh publik, baik oleh mereka yang mendukung ataupun mereka yang kontra terhadap program MBG ini,” ujar Masduri dalam siaran melalui akun YouTube Poltracking TV, pada Senin, 13 April 2026.
Hasil survei menunjukkan 23 persen publik merasa puas karena program MBG. Program ini dinilai memberi dampak langsung, meski juga memunculkan perdebatan di tengah masyarakat.
“Tentu dengan tidak menafikan bahwa ada kelompok-kelompok yang kritis terhadap kebijakan ini,” ucapnya.
Selain MBG, bantuan pemerintah yang tepat sasaran menjadi alasan kepuasan berikutnya. Faktor ini dipilih oleh 13,8 persen responden.
Sebagian publik juga menilai kepemimpinan Prabowo-Gibran tegas dan berwibawa. Faktor ini disebut oleh 10,2 persen responden.
“Terlepas dari perbedaan perspektif pandangan, melihat respons kepemimpinan atau gaya kepemimpinan Prabowo Subianto belakangan ini sebagai Presiden RI, tetapi di dalam negeri, persepsi publik masih menganggap bahwa Prabowo Subianto itu adalah Presiden yang tegas dan berwibawa. Meskipun belakangan banyak mendapat sorotan ya berkaitan dengan ketegangan yang terjadi di Timur Tengah,” kata Masduri.
Faktor lain yang memengaruhi kepuasan publik antara lain kondisi ekonomi yang dinilai stabil sebesar 7,8 persen dan kinerja pemerintah yang dianggap terbukti sebesar 7,0 persen. Jaminan layanan kesehatan disebut oleh 5,9 persen responden, sementara akses pendidikan merata dipilih 5,6 persen.
Pencegahan dan pemberantasan korupsi menjadi alasan bagi 4,5 persen responden. Infrastruktur yang merata dipilih 3,3 persen responden. Stabilitas harga kebutuhan pokok disebut oleh 3,2 persen responden, sedangkan stabilitas harga BBM dipilih 2,2 persen.
Sebagian kecil responden juga menyebutkan faktor lain. Bantuan yang sering diberikan dipilih 1,3 persen. Ketersediaan lapangan kerja disebut 1,1 persen. Kedekatan pemimpin dengan masyarakat juga berada di angka 1,1 persen.
Pembangunan infrastruktur merata, kelanjutan pembangunan IKN, kemajuan pendidikan, kebebasan berpendapat, stabilitas politik dan keamanan, serta penegakan hukum juga masuk dalam daftar alasan, meski dengan persentase lebih kecil.
Survei ini menggunakan metode multistage random sampling. Jumlah responden sebanyak 1.220 orang.
Margin of error tercatat sebesar plus minus 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Wawancara dilakukan secara tatap muka langsung selama periode survei.[]














