Oleh: Don Muzakir
Dalam melihat arah perjalanan bangsa, kita tidak bisa hanya berdiri di permukaan. Kita harus naik lebih tinggi, melihat dari helicopter view agar mampu membaca pola besar, arah kebijakan, dan dampak jangka panjang dari setiap keputusan negara.
Kurang lebih dalam 1,5 tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, saya melihat ada pergeseran fundamental dalam cara negara ini dijalankan. Bukan sekadar administratif, tapi perubahan paradigma: dari ketergantungan menuju kemandirian.
Dan ini bukan sekadar narasi. Ini mulai terlihat dalam berbagai sektor strategis.
Kemandirian Pangan: Dari Impian ke Realitas
Sebagai Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia, saya melihat langsung bagaimana sektor pangan mulai dibenahi secara serius.
Pemerintah tidak lagi hanya bicara soal impor sebagai solusi cepat. Sebaliknya, produksi dalam negeri didorong secara sistematis, mulai dari optimalisasi lahan, distribusi pupuk, hingga penguatan kelembagaan petani.
Data dari berbagai kementerian menunjukkan peningkatan produksi komoditas strategis seperti beras dan jagung di sejumlah wilayah. Bahkan, program lumbung pangan nasional mulai menunjukkan progres nyata.
Ini adalah fondasi penting. Negara yang kuat adalah negara yang mampu memberi makan rakyatnya sendiri.
Energi: Menuju Kedaulatan yang Nyata
Di sektor energi, arah kebijakan juga semakin jelas: mengurangi ketergantungan pada impor dan memperkuat sumber energi domestik.
Pengembangan bioenergi, hilirisasi sumber daya alam, serta dorongan terhadap energi baru terbarukan menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pasar, tetapi mulai mengambil posisi sebagai pemain utama.
Langkah ini penting, bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga geopolitik. Energi adalah alat tawar dalam percaturan global.
Pendidikan dan SDM: Fondasi Jangka Panjang
Namun, dari semua sektor, saya melihat satu program yang paling fundamental: pembangunan kualitas sumber daya manusia.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah contoh konkret bagaimana negara mulai membangun dari akar. Ini bukan sekadar program sosial, tetapi investasi jangka panjang terhadap generasi masa depan.
Anak-anak yang mendapatkan asupan gizi yang baik hari ini, adalah tenaga produktif yang akan menentukan daya saing Indonesia di masa depan.
Dalam banyak studi global, kualitas gizi berkorelasi langsung dengan kemampuan kognitif dan produktivitas. Artinya, MBG adalah fondasi bagi lompatan besar Indonesia di masa depan.
Ekonomi Rakyat: Pilar yang Mulai Diperkuat
Sebagai Ketua Umum Papera dan Ketua Harian APPSI, saya juga melihat bagaimana perhatian terhadap ekonomi rakyat mulai meningkat.
Pasar tradisional, UMKM, dan pedagang kecil tidak lagi diposisikan sebagai sektor pinggiran. Mereka mulai masuk dalam arus utama kebijakan ekonomi nasional.
Ini penting, karena kekuatan ekonomi Indonesia sejatinya ada di rakyat.
Optimisme yang Terukur
Tentu, kita tidak boleh menutup mata bahwa tantangan masih ada. Namun, arah yang ditempuh hari ini sudah berada di jalur yang benar.
Dalam waktu yang relatif singkat, fondasi-fondasi kemandirian mulai dibangun:
- Pangan mulai dikuasai
- Energi mulai diperkuat
- SDM mulai dipersiapkan
- Ekonomi rakyat mulai diangkat
Dari helicopter view, ini adalah gambaran besar yang tidak bisa diabaikan.
Indonesia tidak hanya sedang berjalan, Indonesia sedang berlari menuju kemandirian.
Dan jika konsistensi ini dijaga, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, kita benar-benar berdiri sebagai bangsa yang mandiri, berdaulat, dan disegani di dunia.















