Pengamat: Kebijaksanaan Prabowo Tanggapi Fitnah, Elektabilitasnya Terus Naik
DETIKMERDEKA.COM- Pengamat Politik dari Lingkar Madani, Ray Rangkuti, menilai ada dua faktor yang menyebabkan elektabilitas Prabowo terus naik, yaitu efek dukungan dari Presiden Joko Widodo dan kampanye yang tidak menyerang lawan politiknya.
“Nah, dua posisi ini yang menurut saya membuat elektabilitas Prabowo lumayan naik. Tentu ini akan berkurang di antara dua strategi ini tertinggal. Misal, sikap Pak Jokowi mungkin akan memperlihatkan jarak dia dengan Prabowo, itu suara Prabowo akan tertahan. Atau mereka tidak tahan juga akhirnya terjebak pada isu serang menyerang ini,” kata Ray Rangkuti, seperti dilansir dari laman mypresiden.id, Jumat (4/8/23)
Ray menjelaskan, penyebutan petugas partai oleh Ketum PDIP, Megawati Soekarno Putri kepada Ganjar Pranowo menjadi beban tersendiri. Sehingga, secara tidak langsung mempengaruhi elektabilitas Ganjar menurun dan elektabilitas Prabowo yang naik.
Selain itu, polemik batalnya Piala Dunia U-20 menjadi salah satu blunder yang dibuat Ganjar. Upaya Ganjar yang menelepon penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi juga dianggap tidak etis oleh publik.
Kemudian ditambah lagi, isyarat dukungan yang sempat diberikan Jokowi terhadap Prabowo, kata Ray, bukan suatu pembangkangan ke PDIP. Ray menilai ada proses negosiasi politik yang belum selesai antara Jokowi dengan kekuatan-kekuatan politik.
Jokowi, kata Ray, saat ini sedang memainkan politik keseimbangan agar elektabilitas Ganjar dan Anies tidak terlalu naik ataupun rendah agar keduanya dapat lolos pada putaran kedua pemilihan calon presiden. Dukungan Jokowi akan terlihat jelas pada putaran kedua pilpres.
Isu pelanggar HAM selalu menempel pada diri Prabowo Subianto, saat ini bukanlah isu yang dapat menjatuhkannya. Pasalnya, isu pelanggar HAM sudah terus-menerus diwacanakan ketika pilpres sebelumnya sehingga dampaknya tidak akan besar lagi saat ini.
“Nah, ditambah lagi situasinya tokoh-tokoh yang terlibat itu sekarang juga bersama Pak Prabowo. Terakhir, Budiman Sudjatmiko. Ngapain kita ributin masa lalu Pak Prabowo, orang yang menjadi korbannya merapat ke Prabowo. Isu itu akan ada impact-nya, tetapi tidak sebesar pemilu-pemilu sebelumnya,”ungkap Ray
Sementara itu, pengamat politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Firman Noor mengatakan, meskipun Prabowo difitnah sebagai pelanggar HAM, namun dirinya berusaha untuk diterima di semua kalangan.
Terbukti, saat ini Prabowo nampak lebih diterima oleh semua elemen masyarakat, baik petani, pedagang, hingga para politisi.
“Akan dipimpin pelanggar HAM tentu saja itu berbahaya dan tidak mengenakan untuk demokrasi, tapi permasalahannya saat ini, dari ketiga kandidat itu (Prabowo, Ganjar dan Anies), saya kira, in general tokoh-tokoh yang tidak sekelam Marcos atau Soeharto sebetulnya,” kata Firman.
Dia menilai, saat ini publik tampaknya tak terlalu terpengaruh kepada isu-isu musiman itu. Mereka lebih fokus terkait bagaimana visi dan misi yang ditawarkan para Capres ke depan.
Berdasarkan survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia Denny JA yang digelar pada periode 3 hingga 15 Juli 2023, Menhan RI Prabowo meraih elektabilitas cukup tinggi. Jika berhadapan dengan Ganjar, Prabowo lebih unggul dan banyak diterima basis massa parpol-parpol yang ada di Indonesia.
Ketua Umum Partai Gerindra itu menang dengan elektabilitas sebesar Prabowo 52,0 persen, sedangkan Ganjar ada di angka 41,6 persen.












