DETIKMERDEKA.COM- Memiliki tantangan tersendiri untuk mengulik kehadiran Prabowo Subianto di tengah Jamaah Sinau atau yang lebih dikenal sebagai rakyat Maiyah di Mojokerto pada beberapa hari lalu (26/12/2022).
Tantangan ini muncul bukan saja Prabowo Subianto telah siap menjadi calon presiden pada pilpres 2024, tetapi juga memposisikan Prabowo Subianto mendapat perlakuan khusus dari cara komunikasi politik Cak Nun.
Cak Nun, Mbah Nun, demikianlah dua sapaan akrab yang disematkan pada Emha Ainun Nadjib. Terlepas dari faktor apapun, Cak Nun adalah seorang intelektual muslim yang bergengsi di republik ini. Komitmennya dalam berdakwah dengan stylenya sendiri telah menghantar dirinya tidak bisa lepas dari memori pergerakan di masa orde baru hingga masa kini.
Cak Nun bukan saja dianggap sebagai ulama, penulis, penyair, budayawan, pemikir atau sastrawan, tetapi Cak Nun juga memiliki kemampuan khusus dalam mendesain model pendidikan publik yang mencerahkan.
Barangkali, bukan sekadar rakyat Indonesia yang tinggal di Pulau Jawa saja yang terkagum-kagum dengan Cak Nun, tetapi juga para pecinta ilmu pengetahuan di seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. Untuk itu, tidak heran ketika melihat ada banyak strategi kalangan tertentu dalam mendekati Cak Nun.
Dengan ciri khas dakwahnya yang mengandung nilai kritis, humanis, dan penuh nilai cinta dan kasih sayang sesama ciptaan Tuhan, tidak keliru rasanya ketika menyebut sosok Cak Nun adalah seorang yang patut menjadi inspirator bagi lintas generasi bangsa Indonesia.
Mencermati berbagai pertemuan Maiyah, apakah itu acara yang dihadiri oleh politisi atau tidak, sering kali kita menemukan satire tajam dari Cak Nun yang dialamatkan pada penguasa.
Dalam konteks ini pula, publik memandang bahwa jarang sekali Cak Nun optimal dalam menguraikan seorang atau sekelompok orang yang terlibat aktif di kancah politik praktis.
Pada posisi ini mungkin ada kalangan yang terkejut ketika melihat sikap Cak Nun yang akrab dengan Prabowo Subianto. Hal ini terlihat jelas saat Cak Nun memberi kesaksian terkait kasus penculilan hingga mempertegas bahwa seorang prajurit tidak pernah pensiun dalam berjuang.
Sikap atau komunikasi yang dipertontonkan Cak Nun terhadap publik mungkin saja akan memicu suka atau tidak suka. Terlebih saat ini polarisasi akibat beda pilihan dan dukungan politik menjelang pilpres 2024 semakin tajam dari hari ke hari.
Penulis yakin bahwa sikap Cak Nun sedemikian bukanlah jatuh dari kolong langit begitu saja, sebab dalam menyambut pilpres 2024 tentu Cak Nun paham betul apa saja hal-hal yang terdampak pada dirinya.
Meski Cak Nun menyatakan Prabowo Subianto adalah sahabatnya, tetapi bisa-bisanya Cak Nun meletupkan pernyataan bahwa Prabowo Subianto pernah gagal menjadi presiden Republik Indonesia karena ada praktik manipulasi. Namun pada saat itu pula sebagai sahabat, Prabowo Subianto langsung mempertegas bahwa yang terpenting adalah demi persatuan dan kesatuan bangsa, sehingga perpecahan akibat politik bisa dihindari.
Dari pertemuan di Mojokerto tersebut secara tersirat terdapat beberapa pesan yang senantiasa dapat menjadi iktibar politik bagi publik.
Pertama adalah wajah politik Indonesia mesti diperkuat dengan cara-cara yang lebih mengedepankan nilai persatuan dan kesatuan atas nama bangsa Indonesia. Kedua, sikap kesatria, berjiwa besar dalam berjuang di jalan politik. Dan yang ketiga adalah jangan sempat kehilangan semangat dan harapan dalam memilih pemimpin yang betul-betul bertanggung jawab, tegas serta mencintai rakyatnya.
Terlepas dari rasa suka atau tidak, perbedaan dalam memilih jalan politik adalah keniscayaan. Tetapi pertemuan antara Cak Nun, Prabowo Subianto di hadapan rakyat Maiyah patut dicontoh dan diapresiasi. Argumentasi ini tentunya bukan soal subjektifitas atau tidak, tetapi pertemuan tersebut patut dicontoh dan diapresiasi karena memancarkan nilai keharmonisan dan kegembiraan dalam mendidik publik.
Terlebih saat momen Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Sudaryono tampil bersama Prabowo Subianto, Cak Nun serta seluruh jamaah yang ikut bernyanyi dengan menyulut ketentraman dan kedamaian antar sesama.
Untuk itu, barang kali tak terelakkan terkait adanya pendapat bahwa apakah sikap Cak Nun terhadap Prabowo Subianto sedemikian mampu dicerna oleh publik sebagai sinyal politik kemenangan Prabowo Subianto di pilpres 2024? Barang kali dengan pertemuan di Mojokerto tersebut telah memandu kita untuk menemukan jawaban yang sebenarnya
Oleh : Zulfata
Direktur Kartika Cendekia Nusantara (KCN)



















