Prabowo dan Fenomena Politik Jalan Tengah Pilpres 2024

Prabowo dan Fenomena Politik Jalan Tengah Pilpres 2024

DETIKMERDEKA.COM- Dalam kontestasi Pilpres 2024, setidaknya hingga saat ini hanya memunculkan 3 calon kuat sebagai Calon Presiden RI 2024. Calon kuat adalah Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Ketiganya, secara eklektabilitas bersaing satu sama lain. Terutama untuk suara ke Prabowo dan Ganjar. Survei terbaru Indikator Politik terakhir menyebut, elektabilitas Prabowo Subianto bersaing ketat dengan Ganjar Pranowo.

Seperti dilansir dari laman mypresident.id, Senin (5/6/33) falam survei tersebut dijelaskan jika Prabowo harus berhadapan dengan Ganjar, maka hasilnya Prabowo meraih dukungan sebesar 50,5 persen, sedangkan Ganjar Pranowo hanya 39,3 persen.

Pun demikian jika Prabowo harus berhadapan dengan Anies Baswedan, maka hasilnya Prabowo menang mutlak dengan elektabilitas sebesar 51 persen suara. Sedangkan Anies Baswedan sebesar 34,5 persen suara.

Elektabilitas Prabowo yang tinggi sebagai Capres, tak bisa dilepaskan dari suara publik, terutama warga yang puas dengan kinerja Jokowi dan yang tidak puas dengan kinerja Jokowi 

Dua segmen kelompok ini, sama-sama cenderung memilih Prabowo sebagai Capres ketimbang Ganjar Pranowo atau pun Anies Baswedan.

Sebab, dua pesaingnya, disebut-sebut sebagai Capres yang merepresentasikan kelompok “kanan” dan “kiri”, (Ganjar ke kiri dan Anies ke kanan). Para pendukung kedua capres, sama-sama saling berebut suara massa yang belum terkonsolidasikan ke dalam kelompok mereka.

Sehingga, jika dua kelompok yang tadi disebutkan kecewa dengan idolanya, tentu saja ini akan menyumbangkan suara ke Prabowo. Logisnya, mereka tak mungkin beralih ke kelompok yang bersebrangan dengan ideologinya. Jalan satu-satunya adalah berlabuh ke Prabowo.

Kasus JoMan (Jokowi Mania) yang berpindah hati dari Ganjar ke Prabowo misalnya, bisa menjadi contoh untuk penjelasan di atas.

Teori poitik “jalan tengah” Pilpres 2024

Banyak pengamat yang menyebut Prabowo sebagai Capres yang merepresentasikan politik jalan tengah. Namun, bagaimana sebetulnya politik jalan tengah atau pilihan jalan tengah itu berfungsi, terutama dalam dinamika politik 2024 ini?

Pakar komunikasi politik, Effendi Gazali memaparkan bagaimana teori jalan tengah atau pilihan tengah bisa berlaku dalam kontestasi Pilpres 2024 nanti. Menurutnya, teori ini kerap kali terjadi di Amerika Latin. Namun, melihat dinamika politik belakangan, bisa jadi, teori ini juga berlaku di Indonesia.

“Yang warga puas ada ke Prabowo, yang nggak puas juga ke Prabowo. Jangan-jangan, ini berlaku teori pilihan ke tengah, yang berlaku umumnya di Amerika Latin dan kita amati cukup terasa di Indonesia,” ujar Effendi dalam siaran persnya.

Lebih lanjut, Effendi menjelaskan, teori pilihan tengah atau jalan tengah itu berlaku bagi orang yang berpaling dari satu pendulum ke pendulum lainnya. Namun, mereka tak berpindah ke arah yang bersebrangan, melainkan cenderung berpindah ke tengah.

Dalam konteks Pilpres 2024, Anies Baswedan kerap direpresentasikan sebagai kelompok kanan, sedangkan Ganjar Pranowo direpresentasikan sebagai kelompok kiri. Sedangkan yang merepresentasikan posisi tengah adalah Prabowo Subianto.

Dengan konstelasi politik yang seperti ini, jika pendukung Anies mempengaruhi atau menyerang pendukung Ganjar, belum tentu suaranya akan berlabuh ke Anies. Pun demikian sebaliknya. Mereka, dengan menggunakan teori ini, akan berlabuh ke Prabowo.

“Ketika anda menyerang Jokowi misalnya, nanti yang tinggi angka Prabowo, ketika anda menyerang Ganjar, yang tinggi angka Prabowo, Ketika anda menyerang Anies yang tinggi angka Prabowo, jadi dapat kiri dan kanan dengan teori jalan tengah atau teori pilihan Tengah ini,” katanya.