Antara Prabowo dan Wiranto

Antara Prabowo dan Wiranto 

DETIKMERDEKA.COM- Pertemuan Menhan RI Prabowo Subianto dengan Ketua Watimpres Wiranto turut meramaikan diskurus dan postur lobi kekuasaan dalam pilpres 2024. Dalam konteks pertemuan tersebut, bukan saja tergambarkan sebagai romantika terkait karir militer antara keduanya (Prabowo dan Wiranto), tetapi juga berdampak pada relasi kuasa politik gerbong masa lalu dan masa kini 

Jika situasi politik Indonesia hari ini masih kental dengan stretegi pecah belah, adu domba yang puncaknya dapat dilihat dari fenomena cebong dan kampret, bahkan fenomena kadrun. Tanpa disadari semua cara tempur politik sedemikian justru sedang menancapkan duri dalam daging di republik ini 

Sisi lainnya, tafsir politik liar juga tidak bisa lepas setelah pertemuan itu berlangsung, terlebih saat Wiranto secara terbuka memberi dukungan politik terhadap Prabowo menuju pilpres 2024 

Posisi Wiranto sebagai Ketua Dewan Pembina Presiden RI (masa Jokowi) membuat pertemuan tersebut patut dicermati lebih lanjut. Tidak hanya itu, sebagai bekas petinggi partai Hanura, Wiranto juga menyerahkan sejumlah nama eks partai Hanura untuk bergabung di barisan politik partai Gerindra 

Setelah itu, Wiranto menyambangi PPP. Wiranto tampak aktif melakukan safari politik belakangan ini layaknya Prabowo yang terus melakukan silaturahmi politik terhadap berbagai tokoh nasional di negeri ini, termasuk Jusuf Kalla dan Aburizal Bakrie 

Upaya mencermati arah langkah Prabowo dan Wiranto saat ini pastinya mengarah untuk memperkuat posisi kuasa politik pemerintah, termasuk dalam hal penyesuaian terkait postur ekonomi dunia 

Prabowo dan Wiranto pun dikenal sebagai orang yang selalu siap dalam memperjuangkan kepentingan negara dengan berbagai cara. Rekam jejaknya masih terekam kuat bagi publik, terlebih bagi generasi 1998 yang kini gagal mencapai misi reformasi 

Disadari atau tidak, politik pemerintah dari masa ke masa selalu menang meskipun gejolak politik publik pada waktu-waktu tertentu sempat membara, meskipun rezim mengalami pasang surut, meskipun mengalami pergantian presiden. Namun di balik perhelatan politik tersebut orang-orang di balik pemerintah cenderung tetap tidak lepas dari sosok-sosok di lingkar Soeharto 

Boleh jadi hal ini diakibatkan karena kuasa politik belum didapatkan oleh generasi orde baru, dan boleh jadi pula karena generasi pasca orde baru belum cukup kuat menjadi king maker dalam setiap perhelatan pilpres di republik ini 

Tanpa bermaksud untuk berlebihan dalam mengumbar kenyataan politik Indonesia, diakui atau tidak, substansi praktik politik orde baru semakin marak terjadi, tangan-tangan kuasa yang dulu cenderung melekat pada personalnya politik presiden Soeharto, kini berkembang biak dan menyebar melalui pemimpin-pemimpin partai politik yang juga layak disebut sebagai orang yang pernah berada di barisan politik Soeharto (Golongan Karya). 

Kenyataan ini dapat dilihat melalui nama-nama ketua umum partai politik saat ini, termasuk di dalamnya adalah Prabowo Subianto, Airlangga Hartanto, Surya Paloh, bahkan pemain kunci politik nasional lainnya seperti Jusuf Kalla, Wiranto hingga para konglomerat orde baru 

Dengan kenyataan politik Indonesia sedemikian, arah perjuangan politik apapun hari ini akan bersifat melingkar dengan tidak menyebutnya sebagai alur penyatu di akhir. Artinya, apapun bentuk gerakan politik akan berakhir pada kemenangan politik pemerintahan, politik oligarki 

Semua ini akan terjadi melalui berbagai kompromi ekonomi dan politik. Terlebih kondisi politik dunia hari ini semakin terbuka dan dinamis 

Dalam konteks keindonesiaan kekinian pula, sulit sekali, bahkan mustahil jika membenturkan faksi politik militer dengan faksi sipil. 

Maksud argumentasi politik inilah dari pertemuan Prabowo dan Wiranto publik jangan lagi mau terperosok dalam politik adu domba, politik adu antara golongan militer dengan golongan sipil. 

Sejatinya Gerakan politik militer mesti bersatu padu dengan gerakan politik sipil. Propaganda yang memberi batas demarkasi yang kuat antara politik militer dan sipil harus diganti menjadi politik persatuan semua kalangan. Sebab pada akhirnya semua akan mengikuti arah politik pemerintah. 

Tepatnya terperosok dalam cengkraman oligarki. Pemerintah akan menjadi kompas politik dari masa ke masa. Dalam konteks inilah sejatinya publik mesti semakin dewasa dalam menilai dan menjalani aktivitas politik dalam berbangsa dan bernegara. Termasuk dalam “persandiwaraan” pilpres 2024 mendatang 

Dari pertemuan Prabowo dan Wiranto tersebut dapat ditarik benang merah bahwa tidak ada musuh yang abadi, tidak ada golongan yang terus berbenturan, tidak ada dendam abadi menuju puncak kekuasaan. Semuanya itu adalah upaya untuk bagaimana merajut berbagai kepentingan agar menjadi kuasa kemenangan bersama yang juga melibatkan keinginan rakyat di dalamnya 

Oleh karena itu, masa depan Indonesia masih dibayangi oleh kekuatan kompromi politik yang semakin kuat. Sayangnya, rakyat Indonesia belum lagi menjadi penentu. Belum lagi menjadi magnet. 

Atas kenyataan politik inilah dipandang perlu untuk terus mendorong rakyat agar mampu menguak misteri pertemuan politik di kalangan elite di negeri ini 

Hanya dengan cara sedemikian, publik akan semakin jernih dalam melihat pendulum kekuasaan di republik ini. Bahkan publik tidak terkejut terkait cerita akhir setelah benturan politik di republik ini 

Oleh : Zulfata (Direktur Kartika Cendekia Nusantara /KCN)