Anas, AHY dan SBY

Anas, AHY dan SBY 

DETIKMERDEKA.COM- Ada pembelajaran politik di negeri ini yang barangkali tidak boleh dilupakan, terutama bagi generasi muda Indonesia yang ingin mendalami berbagai pengalaman dan dinamika politik masa lalu untuk kemudian dijadikan sebagai cerminan politik di masa depan 

Pembelajaran politik tersebut di antaranya adalah makna tersirat di balik relasi Anas Urbaingrum dengan Agus Harimurti Yudoyono (AHY) serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang pernah menjabat sebagai presiden RI dua periode 

Menjelang pilpres 2024, gelagat keluarnya Anas dari penjara akibat tersangka kasus korupsi menjadi salah satu pemicu hadirnya tulisan ini, meskipun ada faktor lainnya seperti untuk menciptakan stimulus analisa politik bagi generasi bangsa yang ingin melek politik saat ini 

Anas, seorang yang pernah menjadi Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), serta dengan jejaringan politik yang ia miliki sejak tumbangnya Soeharto, menjadikan Anas setidaknya telah mengisi ruang diskursus politik nasional pada masa tertentu. Terlebih lagi saat puncak karir politik Anas sempat memuncak dan runtuh bersama partainya “keluarga” SBY yang kemudian disebut sebagai partai demokrat 

Pada masanya, diakui atau tidak, Anas memang pernah menjadi orang yang berpengaruh di partai yang pernah memenangi pilpres dua kali berturut-turut itu. Singkat kisah politik, pergerakan politik Anas di partai tersebut ternyata mengalami badai besar bagi Anas, sehingga Anas bukannya terus menjadi petinggi di partai tersebut, tetapi justru bersarang di jeruji besi 

Melihat karakter Anas, tentu ia tampak tidak akan menyerah, ia mungkin akan menggarap kembali peran politiknya setelah serangkaian peristiwa politik yang menimpanya 

Kondisi sedemikian justru relevan dengan anggapan serta pertanyaan publik bahwa apakah setelah Anas bebas dari penjara menjadikannya akan membalas terhadap partai yang pernah membuatnya besar? Atau apakah ia akan menjadi kawan atau lawan bagi SBY? Atau jangan-jangan Anas akan diajak terlibat untuk menghadang karir politik AHY sebagai pelanjut politiknya SBY? Rentetan pertanyaan inilah yang kemudian tidak dapat dijawab secara pasti kecuali jawaban dari suara hatinya Anas sendiri 

Benar bahwa dalam politik soal balas dendam itu merupakan hal yang wajar, bahkan bersifat relatif, boleh jadi akan membalas dendam, dan boleh jadi melupakan begitu saja. Namun demikian, dalam iklim berdemokrasi di Indonesia saat ini, tafsiran politik antara Anas, AHY dan SBY, potensi diskursus itu akan menyala ketika partai Demokrat tidak sejalan dengan politik pemerintah 

Terlebih saat ini posisi AHY tampak ingin berupaya diposisikan sebagai calon wakil presiden pada pilpres 2024. Selanjutnya juga akan disorot ketika saat ini partai Demokrat dianggap tidak akan pernah ketemu dengan partai PDI-P yang kini masih menjadi partai terbesar di Indonesia 

Segala kemungkinan memang bisa terjadi dalam praktik politik, termasuk bebasnya Anas akan menjadi batu sandungan bagi masa depan karir politik AHY 

Dalam persoalan itu, untung saja politik “bapak sayang anak” masih menjadikan AHY mampu bertahan hingga detik ini. Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah SBY memang seorang politisi sekaligus presiden yang pernah berpengaruh pada masanya, tetapi untuk masa politik ke depan, SBY belum tentu menjadi inspirasi politik bagi generasi 

Hal tersebut bisa terjadi bukan saja karena zaman telah berubah, tetapi gelombang naik turun, menguat dan kerdilnya yang dialami suatu parpol pasti terjadi 

Atas posisi begitu besarnya peran dan nama besar SBY tersebut justru menjadikan posisi AHY dianggap tidak akan mampu berpolitik seperti bapaknya, hal ini dapat dilihat dari beberapa faktor, di antaranya adalah faktor pengalaman politik dan faktor kebribadian hingga soal kecerdasan 

Posisi AHY yang sedemikianlah justru membuka analisis liar bagi publik bahwa Anas akan cukup mudah dalam mempraktikan politik balas dendam terhadap langkah politik AHY. Sebab pada kesempatan tertentu Anas pernah menampakkan gestur politik kekecewaannya terhadap partai yang pernah turut ia besarkan itu 

Sebagai orang yang pernah berpengaruh di kalangan pemuda masa orde baru hingga tidak sedikitnya kader serta sahabat yang pernah dibesarkan oleh Anas, tentu publik tidak bisa diam apakah Anas tidak merencanakan politik tertentu setelah ia bebas dari penjara? Pada titik argumentasi inilah letak benang merah pembelajaran politik yang menarik untuk diulik antara Anas, AHY dan SBY 

Sebagai manfaatnya barang kali dapat memberikan makna betapa unik dan lenturnya praktik politik saat ingin dipahami oleh generasi bangsa 

Sebab dalam politik cenderung tidak ada lawan yang abadi, tidak ada pimpinan yang selalu setia, tidak ada kader yang selalu patuh, tidak ada partai yang selalu membawa keberuntungan, begitu pula tidak selamanya politik itu kejam dan menunggu waktu yang tepat untuk dapat balas membalas dendam politik 

Oleh : Zulfata (Direktur Kartika Cendekia Nusantara/ KCN). Tinggal di Jakarta Selatan