JIS, Jalan Sepeda & Politik Ibu Kota

JIS, Jalan Sepeda & Politik Ibu Kota

DETIKMERDEKA.COM- Tahun politik memang menyulut atau menyorot isu tertentu tanpa henti sebelum tujuan politik tercapai. 

Terlebih tujuan politik tersebut dimainkan oleh ketua umum parpol, bakal calon presiden atau yang masuk dalam bursa sebagai cawapres pada pilpres 2024 

Ada gula ada semut, ada udang di balik batu. Polemik yang diciptakam bukan tanpa sengaja, terutama para pendengung politik dan relawan politik terus bekerja dengan intens. Pemberitaan, pembingkaian isu dan kebijakan politik nasional semakin gencar terpublikasi dan tanpa sadar publik terus terpancing membicarakannya, bahkan membangunkan alam bawah sadar politiknya 

Dalam konteks politik 2024, pekerjaan politik telah dimulai sebelum 2023 dan akan terus berlanjut setelah 2029. Polemik dan dinamika nasional menghujani gagasan politik publik. 

Pasar politik, modal politik, gagasan politik, transaksional para pemburu rente, pendukung dan petarung politik membelah sekaligus menyatu membentuk poros kenyamanannya masing-masing 

Meskipun koalisi pilpres belum begitu matang, demikian halnya dengan belum pastinya berapa pasangan capres yang pasti bertarung pada pilpres 2024, dalam, rentang waktu tersebut pula berbagai event atau program pemerintah di masa transisi ini syarat dengan modus politis. 

Dalam konteks ini, bagaimanapun usaha untuk tidak menyatakan bahwa berbagai program pemerintah atau badan bentukkan pemerintah menolak untuk menyatakan tidak politis, tetapi publik memiliki penilaian dan catatan tersendiri. 

Misalnya catatan publik tersebut boleh jadi mengomentari aksi Erick Thohir yang begitu gencar melakukan “terobosan”ppolitik usai ia terpilih dengan mulus sebagai Ketua Umum PSSI yang sekaligus sebagai menterinya Jokowi (menteri BUMN). Seiring dengan ada kehendak sekelompok politik bahwa Erick Thohir ingin dipasangkan sebagai calon presiden pada pilpres 2024, berbagai terobosan Erick Thohir tersebut pun menuai polemik, termasuk dalam merenovasi JIS (Jakarta International Stadium) karena dianggap rumput JIS tidak sesuai standart FIFA saat hendak menggelar piala dunia U-17 2023 di Indonesia. 

Meski pelaksanaan piala dunia U-20 telah menjadikan Indonesia gagal sebagai tuan rumah pada tahun 2023 yang juga dicap bagian dari serangkaian politis, kini Erick Thohir tampak tidak tinggal diam, ia terus menerobos hingga menyukseskan pelaksanaan piala dunia U-17 2023. Dalam kondisi itu pula Erick tampak sedang menerobos bahkan dilabrak oleh kubu politik yang mendukung Anies Baswedan sebagai bakal capres pada Pilpres 2024

Perang narasi dan klaim politik pun tak terhindar. Jakarta sebagai ibu kota negara tidak lagi terlihat sebagai daerah teritorial DKI Jakarta atau daerah metropolitan. Demikian juga Jakarta tidak terlihat lagi sebagai pusat ibu kota negara yang akan pindah, tetapi Jakarta juga dilihat sebagai pemicu berbagai strategi politik 2024 bagi seluruh daerah di Indonesia. Dalam situasi itu pula tidak heran berbagai kebijakan yang pernah digarap oleh Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta kemudian digarap ulang oleh pemangku kebijakan setelahnya. Termasuk PJ Gubernur Heru Budi Hartono maupun Erick Thohir sebagai Ketua Umum PSSI sekaligus menteri BUMN. 

Dalam dinamika politik yang disentil di atas, diakui atau tidak telah menyeret nama Jokowi, Erick Thohir, Anies Baswedan. Nama Jokowi terseret karena dianggap membuka ruang untuk garapan politik yang menentang kebijakan Jokowi sebagai presiden maupun sebagai pengendorse capres-cawapres 

Demikian pula nama Erick Thohir terus terseret lantaran Erick juga dianggap sebagai eksekutor ulung oleh Presiden Joko Widodo. Selanjutnya, nama Anies Baswedan terus dibicarakan lantaran beberapa kebijakan yang dianggap di masa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berpretasi. 

Kelanjutannya, program politik adu antitesa antar gerbong politik pun terus mencuat. Di tengah isu JIS sebagai kebanggaannya Jakarta atau Indonesia yang dimegahkan oleh pendukung Anies Baswedan, pada saat itu pula JIS direnovasi. 

Ada kelompok yang tidak menerima, Kontroversi tak terhindari, seolah-olah ada upaya penjegalan terhadap jalan politik Anies Baswedan. Dalam konteks ini pula, garis pemisah antara siapa yang menjegal dan yang dijegal terasa kabur, bahkan terasa tawar. Sehingga siapa yang ksatria dalam berjuang di politik dengan barisan yang mudah mencari kambing hitam dalam politik sulit dicerahkan dalam diskursus publik menuju pilpres 2024. Rasa loyalitas tanpa rasional semakin mewabah di Indonesia, termasuk menyerang generasi milenial (Y, X).  

Tidak hanya JIS, jalan sepeda, sumur serapan, rumah DP nol persen dan seterusnya yang dianggap melekat dengan prestasi Anies sebagi Gubernur DKI Jakarta terus digarap ulang dengan alasan perbaikan dengan tidak menyebutnya sebagai pembuktian kegagalan Anies Baswedan dalam membangun pusat ibu kota sebagai gubernur DKI Jakarta. 

Barangkali melalui polemik JIS yang pendulumnya ada pada Erick Thohir kali ini dapat membuka pencerahan publik terjadi program apa yang patut disambut baik di republik ini, dan barisan pendengung politik mana yang terus menciptakan politik pecah belah di Republik ini. 

JIS, pada dirimu bukan sekadar saksi bisu kesenjangan politik nasional, melainkan juga serangkaian agenda politik terselubung yang diselipkan dalam setiap agenda pembangunan

Oleh : Zulfata (Direktur Sekolah Kita Menulis/SKM) dan Penulis Buku Keberengsekan Jakarta