DETIKMERDEKA – Turnamen Piala AFF selalu membawa dua hal bagi Timnas Indonesia. Harapan besar dan bayang-bayang kegagalan datang bersamaan.
Sejak pertama kali digelar pada 1996, saat masih bernama Piala Tiger, Indonesia belum pernah meraih gelar juara. Timnas sudah enam kali tampil di final. Hasilnya selalu sama, yakni finis sebagai runner-up.
Catatan itu perlahan menjadi beban. Publik mulai melihatnya sebagai “kutukan” yang belum terpecahkan.
Edisi 2026 akan digelar pada 24 Juli hingga 26 Agustus. Optimisme kembali muncul. Harapan itu kini bertumpu pada pelatih baru, John Herdman.
Pelatih asal Inggris tersebut datang dengan pengalaman berbeda. Ia pernah membawa Kanada tampil di Piala Dunia 2022. Rekam jejak ini membuat ekspektasi publik meningkat.
Herdman dinilai memiliki pendekatan berbeda dibanding pelatih sebelumnya, Shin Tae-yong. Ia dikenal mampu membangun tim kompetitif dalam waktu relatif singkat.
Piala AFF bukan bagian dari kalender resmi FIFA. Kondisi ini membuat sejumlah pemain yang berkarier di Eropa sulit bergabung. Nama seperti Jay Idzes, Calvin Verdonk, dan Kevin Diks berpotensi absen.
Absennya pemain diaspora tentu berpengaruh. Pengalaman bermain di level tinggi menjadi berkurang.
Situasi ini justru menjadi ujian bagi Herdman. Ia dituntut memaksimalkan potensi pemain lokal.
Kompetisi domestik menjadi dasar utama seleksi. BRI Super League diprediksi menjadi sumber pemain. Beberapa nama mulai mencuat.
Thom Haye dan Beckham Putra dari Persib Bandung berpeluang masuk skuad. Rizky Ridho, Witan Sulaeman, dan Jordi Amat dari Persija Jakarta juga diprediksi menjadi tulang punggung tim.
Kondisi ini membuka peluang bagi pemain baru. Herdman memiliki ruang untuk membangun tim yang lebih kolektif.
Pendekatan ini bisa menjadi keunggulan. Tim tidak bergantung pada satu atau dua pemain. Pola permainan bisa lebih fleksibel dan disiplin.
Sejumlah pengamat menilai kondisi ini bukan kelemahan. Kedalaman pemain lokal dinilai semakin merata. Klub seperti Dewa United, Persebaya Surabaya, dan Borneo FC juga memiliki pemain yang layak dipanggil.
Herdman dijadwalkan memanfaatkan FIFA Matchday pada awal Juni. Agenda ini akan digunakan untuk mematangkan tim. Komposisi pemain akan diuji. Chemistry antar pemain mulai dibangun.
Tekanan tetap menjadi tantangan utama. Publik Indonesia sudah lama menunggu gelar juara. Harapan selalu tinggi di setiap edisi, tetapi hasil belum sesuai.
Kegagalan di final masih membekas. Tekanan akan kembali hadir saat tim mendekati fase krusial.
Herdman tidak hanya dituntut menyusun strategi. Ia juga harus membangun mentalitas juara. Aspek ini selama ini menjadi titik lemah timnas.
Kualitas pemain sebenarnya sudah terlihat. Enam kali masuk final menjadi bukti. Namun langkah terakhir selalu menjadi kendala.
Tim membutuhkan ketenangan dan keberanian saat tekanan tinggi. Keyakinan di momen penting menjadi penentu.
Piala AFF 2026 bisa menjadi titik balik. Kesempatan untuk mengakhiri penantian panjang terbuka.
Semua bergantung pada kemampuan pelatih membaca situasi. Pemanfaatan pemain yang ada juga menjadi kunci.[]



















