Politik Sapu Jagat Jokowi

Politik Sapu Jagat Jokowi 

DETIKMERDEKA.COM- Masih hangat di benak publik dengan sebutan sapu jagat. UU Sapu jagat yang sempat ditolak, namun pada akhirnya jebol juga 

Jika mencermati berbagai kebijakan pemerintah Presiden Joko Widodo selama dua periode berkuasa di Indonesia, nyaris ada hasrat politiknya yang tak tercapai. Termasuk dalam hal hasrat politik yang menginginkan capres dan cawapres yang direstuinya 

Benar bahwa semua hal tersebut tidak lepas dari dampak politik koalisi yang menyokong pemerintahan Jokowi melalui tiga partai terbesar di Indonesia saat ini. Meskipun Jokowi terang-terangan disebut sebagai petugas partai pada partai terbesar kali ini, paling tidak Jokowi tampak seperti memiliki jurus politik yang barangkali tidak mudah dikontrol oleh pimpinan partai politik yang sedang dijalaninya saat ini 

Sebagai bukti, kalimat penekanan pidato politik terkait tidak ada manuver politik, tidak ada politik dua kaki, tiga kaki dan pada 2024 akan berlayar “Kapal Malahayati” sebagai simbol untuk Puan Maharani sebagai capres 2024, namun pada akhirnya semua isi pidato tersebut berubah total ketika Jokowi menentukan skema lain dalam memberikan restu politik 

Kekuatan politik Jokowi semakin “ganas” ketika ia terus diserang oleh lawan politiknya melalui berbagai narasi dan fakta anti tesis dari kepemimpinannya. Mulai dari sikap politik cawe-cawe, hingga menurunkan mobil dinas presiden dari jalan istana ke jalan berlubang di berbagai daerah di Indonesia, di Lampung, Jambi dan Sumatera Utara 

Tidak terhenti di situ, gelagat politik keluarga Jokowi pun semakin menarik jika diuraikan. Anak dan menantu Jokowi yang memiliki jabatan strategis tampak tak serius bersikap tegak lurus dengan pimpinan partai politiknya 

Gibran “diberi nasehat” oleh PDI-P setelah merestui relawan Jokowi-Gibran untuk Prabowo Subianto pada pilpres 2024. Demikian pula hasil musra (musyawarah rakyat) yang tegak lurus bersama Jokowi tidak hanya mendukung capres yang diusung oleh PDI-P. Misteri politik Jokowi tampak semakin mengarah bahwa Jokowi seperti tidak ingin diatur secara berlebihan oleh Megawati. Jokowi berpolitik tampak memang sederhana, namun gerak politiknya tidak mudah untuk ditebak selain cita-citanya untuk menghadirkan presiden dan wapres 2024 yang ingin melanjutkan program pemerintahannya 

Telak, langkah politik Jokowi sedemikian menjadikan beberapa partai politik yang menentang sikap politiknya Jokowi menjadi “geram”

Jokowi disebut-sebut terlalu jauh ikut campur dan mengitervensi lawan politiknya untuk tidak mendapat tiket atau gagal menjadi capres 2024 

Dampak dari itu, kasus tersangkanya Jhonny G. Plate (Menteri Kominfo) menjadi tersangka korupsi BTS 8 Miliar meski pun korupsi tersebut adalah kasus lama yang terkesan “dikelola secara politis” 

Kini, publik, rakyat semakin cerdas dan lincah dalam membaca arah dan keinginan politik Jokowi, tetapi publik, rakyat bahkan elite saat ini tampak kewalahan menghalangi hasrat politik Jokowi. Semuanya diatur, tersulut, tergiring, terjebak, tertekan hingga terpaksa mengikuti arah politik Jokowi 

Atas kondisi ini pula, Jokowi tidak sendirian. Terbaca pula bahwa Jokowi tidak benar-benar ingin benar-benar pensiun politik dan pulang kampung halaman setelah jadi presiden RI 

Politik Jokowi berlanjut menjadi the making maker 2024. Berlanjut pada proses penguatan politik keluarga-dinasti. “Anak-anak politik” Jokowi yang gesit berpolitik tampak seperti menusuk duri dalam daging yang bernama PDI-P. 

Apa yang disebut sebagai trah Soekarno semakin kabur dan berpotensi berganti peran menjadi trah Jokowi. Trah Jokowi barangkali bukan bersifat hubungan politik biologis, tetapi berkaitan dengan kesamaan prinsip politik dalam mencapai cita-cita kelompok dalam membenah internal partai, bangsa dan negara 

Disadari atau tidak, kini politik mengatur semuanya, melintasi semua irisan kepentingan politik nasional. Benar ada hutang politik Jokowi, tetapi tidak bisa dipungkiri pula Jokowi tidak tinggal diam dengan hutang politiknya tersebut 

Termasuk Jokowi tidak tinggal diam dengan elite tertentu yang terus berusaha menghalangi niat politiknya. Barangkali, kalimat terkait semuanya tergantung Jokowi memang benar adanya. Nasib politik Jokowi hampir seperti nasib UU Sapu Jagat Omnibus Law, meski ditolak, terbentur dan pada akhirnya berjalan mulus 

Gaya politik di ujung kepemimpinan Jokowi sedemikian telah menjadi sejarah kepemimpinan baru, dimana Jokowi dianggap walau pun benar bermain dua kaki pada pilpres 2024. Keakraban politik Jokowi dengan Prabowo Subianto dengan Ganjar Pranowo benar-benar membingungkan lawan-lawan politik Jokowi di tengah simpang-siur terkait adanya praktik intervensi politik hukum di akhir kepemimpinan Jokowi 

Jokowi, politisi dari kalangan sipil. Bukan kalangan golongan konglomerat. Bukan pemilik Partai Politik. Tetapi disebut petugas partai namun mampu membelah parpol dari dalam serta mengkomposisikan dari beberapa parpol menjadi satu politik dalam jejaringan politik yang disebut Ibu Kota Negara (IKN) akan dilanjutkan oleh siapa dan digagalkan oleh siapa? Jokowi, ia tampak seperti sedang bertaruh dengan peradaban Indonesia. 

Sejarah akan mencatat nama besarnya di antara sebutan bapak pembangunan IKN atau bapak kegagalan IKN. Sejarah mungkin berulang

Oleh: Zulfata (Pemimpin Redaksi Majalah Pedagang Merdeka)